Aplikasi Teknologi Ini untuk Genjot  Produktivitas Perikanan Budi Daya

Aplikasi Teknologi Ini untuk Genjot Produktivitas Perikanan Budi Daya

Oxomedia, Denpasar – Sejumlah pihak meluncurkan kompetisi Indonesia Aquaculture Challenge Project untuk mendorong penggunaan teknologi di perikanan budidaya. Produktivitas dinilai masih rendah, namun penggunaan lahan cukup besar yang mendorong alih fungsi lahan hijau.

Hal ini dibahas dalam webinar bertajuk “Mendukung Inovasi Teknologi dan Sertifikasi Untuk Meningkatkan Produktivitas Pembudidaya Skala Kecil” oleh AgResults bekerja sama dengan Yayasan WWF Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Kamis (17/12/2020).

Gemi Triastuti, Sekretaris Dirjen Perikanan Budidaya KKP mengatakan dalam budidaya berkelanjutan perlu inovasi mendorong pembenihan yang bersertifikasi dan produktivitas. Misalnya penggunaan teknologi aerator dan automatic feeder. KKP mendorong komitmen dan kerjasama multistakeholder perikanan budidaya. Program ini akan berjalan selama empat tahun di enam provinsi yakni Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan NTB.

Coco Kokarkin seorang ahli akuakultur atau aquaculturist mengatakan aplikasi teknologi di pembudidaya skala kecil tak mudah. Dilihat dari RUU yang sedang dibahas, ada 3 kriteria usaha mikro bidang budidaya ini yakni modal usaha di bawah Rp1 milyar, penjualan di atas Rp2 milyar, dan luas lahan di bawah 2 hektar.

Namun di lapangan, ada yang punya kolam sampai 12 hektar tapi mengaku petambak sederhana. Mereka mengandalkan aliran air saluran atau pasang surut, menggunakan banyak pupuk, dan mau meningkatkan produktivitas jika teknologinya murah.

“Repotnya tak tertarik inovasi kecuali sudah yakin meningkatkan keuntungan, ini tantangan,” ujar Direktur Perbenihan pada Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP ini. Hasil panen rata-rata perikanan budidaya di atas 400 kg/ha/tahun. “Bila kena masalah dua kali berturut akan ditinggalkan,” imbuh Coco.

Peningkatan produktivitas

Ia mengatakan banyak yang mengaku petambak tradisional tapi ajaibnya menguasai lahan luas, ini termasuk boros lahan karena produktivitas rendah. “Harapannya, hasil ditingkatkan dan lahan tak produktif dihijaukan lagi,” sebutnya.

Cara meningkatkan diantaranya dengan survival rate (SR) benih di 2 minggu pertama, benih harus bebas penyakit, ukuran lebih besar, tak ada predator, dan tersedia pakan lokal. Selain itu meningkatkan daya dukung ketersediaan oksigen di malam hari dan ketersediaan pakan buatan.

Saat ini optimalisasi produktivitas ada beragam cara, misalnya teknologi tepat guna. Penambahan kincir menurutnya sejalan dengan penambahan hasil. Jika panen udang sekitar 120 kg, ditambah 1 kincir bisa menjadi 300 kg udang. Dari perhitungannya, penambahan untung sekitar Rp7,5 juta per siklus per kincir. “Kalau harga kincir dianggap mahal, hanya mau gratis, ini sesuatu yang harus dipertimbangkan,” ia memberi catatan.

Solusi lain, bila biaya teknologi pembudidaya UMKM relatif tinggi maka target penerapan teknologi adalah dengan budi daya komoditas bernilai tinggi. Misal udang galah, ikan belida, kepiting, dan lainnya.

Aplikasi teknologi di usaha budidaya selain meingkatkan produksi dan kepastian hasil, juga mengurangi human error. Menurutnya saat pandemi ini adalah masa yang tepat untuk mendorong penerapan teknologi dan standar budidaya untuk meningkatkan hasil dan devisa ekspor.

Prediksi penerimaan teknologi ini dari hasil observasinya adalah pembudiadya tak tertarik, tak ada listrik, mahal, malas hitung produktivitas, atau pernah rugi tak ada uang untuk beli teknologi.

Dalam situasi seperti itu, Coco menyarankan produsen mempertimbangkan pengelompokkan pembudidaya sehingga lebih hemat. Peralatan yang dioperasikan 1 phase, penggunaan genset kelompok, dan ada champion atau orang yang sudah berhasil. Selain itu, produsen aerator perlu kerjasama dengan autofeeder.

Inovasi Teknologi

Sedangkan Arief Arianto, Perekayasa Madya Teknologi Pertanian dari Badan Pengkajian dan Pengaplikasian Teknologi (BPPT) menjelaskan tantangan Indonesia dalam industri budidaya ini cikup banyak. Seperti arus informasi, sumberdaya terbatas, perdagangan bebas, dan ledakan penduduk. “Kalau tak mampu berinovasi menghadapi tekanan lingkungan, akan terlindas jaman,” ingatnya.

Isu global pun berpengaruh, misalnya pemanasan global menyebabkan kekacauan musim, degradasi lingkungan, dan pertambahan penduduk membuat pertambahan permintaan pangan. Karena itu perlu teknologi adaptif perubahan iklim, dan perbaikan produksi untuk proyeksi kecukupan pangan.

Di lapangan, budidaya produk perikanan saat ini masih dibayangi cemaran zat kimia, kerusakan lingkungan perairan, kekeruhan, residu limbah pertanian dan lainnya. Di sisi lain ada peningkatan permintaan. Karena itu perlu teknologi yang tepat, ramah lingkungan, menggenjot produktivitas, dan ramah lingkungan.

Teknologi budi daya ini meliputi pemantauan kimia (pH, oksigen terlarut, amonia, CO2), fisika (suhu, kecerahan, warna), dan biologi (plankton dan bakteri, kuantitas, dan lainnya).

Akurasi pemberian pakan dan air masuk keluar makin dibutuhkan untuk menghemat sumber daya alam yang terbatas. Misalnya auotofish feeder dengan teknologi digital bisa beri pakan ikan atau komoditas lain secara berkala.

Aerator bertenaga matahari juga makin jadi pilihan, mengurangi pemakaian genset atau listrik. Alat ini dikombinasikan teknologi digital. “Beberapa inovator mengembangkan integrasi sistem aerasi, autofish feeder, suplai air, sehingga bisa dimonitor dengan HP,” jelas Arief.

Situasi pandemi pun memberikan motivasi dan inspirasi teknologi tanpa sentuh untuk monitor kuantitas dan kualitas air. “Semoga muncul inovator mengembangkan teknologi dari Indonesia” harapnya.

Standar Budi daya

Sedangkan Novia Priyana, tim ahli GQSP Indonesia memaparkan pedoman badan pangan dunia atau FAO sudah diadopsi Indonesia. FAO meluncurkan panduan integritas lingkungan, inovasi, dan pencegahan limbah dari teknologi. Pelaku pembudidaya diharapkan bisa meningkatkan operasional yang aman.

Ada standar nasional Indonesia atau SNI cara pembenihan ikan yang baik, merangkum 4 pilar yakni keamanan pangan, kesejahteraan ikan, kepeduliaan lingkungan, dan sosial ekonomi.

“Sedang disiapkan SNI inovasi. Bekerjasama dengan pembudidaya untuk menilai aplikasi teknologinya,” ujarnya. Inovator menciptakan teknologi dengan standar dan berprinsip 4 pilar itu.

Standar ini untuk memastikan keempat pilar terpenuhi. “Menurunkan biaya produksi dan transaksi, peluang pasar, posisi yang lebih kompetitif, dan memperbaiki manajemen risiko,” lanjut Novia.

Prioritas KKP 2020-2024 adalah perikanan budidaya yang fokus membantu 5 komoditi yakni udang, lele, rumput laut, bandeng, dan patin. Misalnya menetapkan teknologi dan membangkitkan industri pasar domestik dan ekspor.

Tanda SNI dan Indonesia Good Aquaculture Practices (IndoGAP) menjadi rujukan bagi yang sudah tersertifikasi. Logo IndoGAP disebut sebagai bukti ketelusuran kriteria tersebut selain media promosi.

Diskusi virtual berlangsung padat dengan ragam pertanyaan dari pelaku usaha. Misalnya Alexander Nicholaus bertanya masa depan perikanan budi daya jika pandemi masih sampai 2021? Coco Kokarkin meyakinkan jika ikan adalah komoditas yang masih plus nilai ekspornya. Kuncinya adalah pemasaran, penggunaan teknologi dan sertifikasi keamanan pangan serta sertif lingkungan untuk masuk jalur ekspor.

Untuk mampu bersaing, Arief Arianto menganjurkan memberikan nilai tambah untuk usaha atau produk perikanan seperti kemampuan untuk ditelusuri. Memberi jaminan konsumen bahwa ada jaminan keamanan dari produsen dan keunggulan pengirimannya

Kompetisi Inovasi Akuakultur

Imam Musthofa, Koordinator Program Perikanan dan Kelautan WWF Indonesia mengundang pelaku usaha mengikuti kompetisi akuakultur ini.

AgResults membuka kompetisi tantangan Proyek Akuakultur Indonesia, yang dibuka awal Januari 2021 dan berjalan selama empat tahun. Proyek ini mengajak sektor swasta membuat inovasi penguatan sektor akuakultur untuk mendorong pembudidaya skala kecil mengadopsi teknologi.

Jumlah pembudidaya skala kecil di Indonesia mencapai 70-80% dari total produsen akuakultur dan sebagian besar berlum produktif. Proyek AgResult bersama WWF-Indonesia akan menggunakan kompetisi dengan skema hadiah pay for results untuk mendorong peningkatan adopsi teknologi yang meningkatkan produktivitas seperti auto-feeder dan aerator untuk pembudidaya skala kecil. Kompetisi ini melibatkan penyedia alat dan pembudidaya.

Hadiah total sekitar USD450.000 teknologi akuakultur, khususnya aerator dan auto-feeder, yang mereka jual atau sewa ke pembudidaya skala kecil. Selain itu, kompetisi ini akan memberikan hadiah utama kepada para kontestan yang berhasil menjual teknologi paling banyak selama periode kontes berlangsung yaitu empat tahun. Para juri akan melacak penjualan dan memverifikasi hasil untuk memastikan bahwa hadiah didistribusikan secara akurat.

Program ini didanai oleh USAID (AS), FCDO (Inggris), DFAT (Australia), GAC (Kanada), dan Bill and Melinda Gates Foundation.

Proyeksi konsumsi perikanan meningkat, dari 34 kg/tahun pada 2012 menjadi 60 kg/tahun pada 2030. Antara 70-80% produsen akuakultur pembudidaya skala kecil, dan menurutnya perlu peningkatan kapasitas. Jalan pintas produktivitas meluaskan area tambak, tapi bermasalah di tata guna lahan.

Jika bisa menyediakan teknologi yang mudah diaplikasi, saat ini masih skala ujicoba dan feasible secara ekonomi. Pemerintah Indonesia menetapkan tujuan ekspansi akuakultur untuk 2030. “Jika produksi bisnis biasa, target produksi sulit dipenuhi dan menambah lahan,” jelasnya.

Ada dua kategori kompetisi, aerator dan auto feeder tradisional dan modern. Juga sertifikasi pembenihan IndoGAP untuk ikan air tawar dan udang monodon.

Technical advisory committee program ini adalah Coco Kokarkin, ahli budidaya, Evelyn Nursali, ahli dunia usha perikanan, Arief Arianto, ahli teknologi, dan Ery Damayanti, ahli gender. (Mongabay Indonesia)

Komentar Anda

Ekonomi Lingkungan Tekno