Teror Harimau Hantui Warga Langkat

Teror Harimau Hantui Warga Langkat

Tahun 2020 tercatat ada delapan kasus penyerangan yang dilakukan Harimau Sumatera

Oxomedia, Medan – Setidaknya dua ekor sapi milik warga mati diterkam harimau di areal pekebunan kelapa sawit di Dusun Selayang, Desa Lau Demak, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat Sumatera Utara pada Jumat kemarin.

Umur Sitepu, salah satu pemilik sapi mengatakan peliharaannya itu ditambatkan di areal perladangan, atau sekitar 150 meter dari rumahnya. Namun saat dia memeriksa ulang, binatang itu sudah hilang.

Umur sempat menyusuri jejak sepanjang 100 meter dan menemukan sapi miliknya sudah mati dengan luka dan bagian tubuh yang hilang. Di tempat yang sama, Umur juga menemukan sapi milik warga lain yang juga mati.

Pihak pengelola Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Palber Turnip memperkirakan bahwa kedua sapi ternak milik warga tersebut tewas diterkam seekor Harimau Sumatra yang masih remaja.

“Dugaan sementara [dilakukan] harimau remaja yang sedang belajar berburu,” kata Palber kepada Anadolu Agency pada Sabtu. Setelah kejadian, petugas turut memasang kamera jebak dan berhasil merekam seekor Harimau Sumatra yang melintas.

Menurut Palber, petugas TNGL akan mengidentifikasi jenis kelamin dan umurnya. Petugas juga masih bersiaga guna menghalau satwa buas itu untuk diusir kembali ke dalam hutan.  Palber mengimbau warga untuk tetap berhati-hati. Dia juga berharap agar para mereka tidak lagi melepas hewan ternak dan menambatkannya di lokasi terbuka guna menghindari peristiwa itu terulang.

Serangan Harimau Sumatra (panthera tigris sumatrae) terhadap hewan ternak milik warga memang sering terjadi di kawasan Langkat, Sumatera. Kawasan itu masuk dalam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), yang menjadi habitat Harimau Sumatra.

Sepanjang tahun 2020, menurut pihak TNGL tercatat sudah terjadi delapan kali serangan harimau di sekitar kawasan TNGL Langkat.  Tidak hanya menerkam hewan ternak warga, harimau juga menyerang dan menewaskan seorang warga di kawasan TNGL wilayah Sekoci, Desa PIR ADB, Kecamatan Besitang, April silam.  Warga yang tewas tersebut bernama Ramlan (42), Ketua Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) Makmur Tani yang merupakan mitra Balai Besar TNGL.

Konflik antara satwa dan manusia memang belum berakhir di daerah ini.

Menurut Palber, peningkatan intensitas serangan Harimau Sumatra ini disebabkan sejumlah faktor.Misalnya alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan perkebunan, kondisi kesehatan harimau yang membuatnya tidak mampu berburu di dalam hutan dan juga kuantitas mangsa buruan, seperti babi hutan, rusa, kancil dan hewan lainnya, telah menyusut

“Sebenarnya lokasi serangan itu masih kawasan hutan yang menjadi wilayah jelajah (range) Harimau Sumatera, faktanya sudah berubah menjadi kebun dan ladang,” kata Palber. Pihak TNGL juga menemukan bukti masih terjadinya praktik perburuan liar di kawasan tersebut.

Harimau Sumatra merupakan satwa dilindungi oleh Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Satwa ini masuk dalam daftar merah alias terancam punah (Critically Endangered) versi International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Diperkirakan tak lebih dari 400 individu Harimau Sumatra yang kini berada di alam liar.(Anadolu Agency.tr)

Komentar Anda

Lingkungan