Pfizer Selidiki Kematian yang Dikaitkan-kaitkan Vaksin

Pfizer Selidiki Kematian yang Dikaitkan-kaitkan Vaksin

Oxomedia, Miami, – Program vaksinasi terbesar dalam sejarah manusia sedang berlangsung. Dimulai Desember 2020, hingga hari ini sudah 15,9 juta dosis vaksin Covid-19 disuntikkan di 37 negara seperti dicatat Bloomberg, Kamis (7/1). Miliaran dosis lainnya akan segera menyusul, termasuk di Indonesia dalam pekan-pekan mendatang.

Vaksin Pfizer-BioNTech menjadi salah satu vaksin yang sudah mendapat lampu hijau dari WHO. Sejumlah pejabat pemerintah telah menerima vaksin Pfizer-BioNTech, termasuk Wakil Presiden AS Mike Pence dan Presiden Terpilih AS Joe Biden.

Seiring dengan program vaksinasi berjalan, muncul berita-berita kematian yang dikait-kaitkan dengan vaksinasi.

Seperti kematian Dr. Gregory Michael, 56, yang bekerja di Mount Sinai Medical Center, Miami, Florida, Amerika Serikat. Dia meinggal Senin (4/1) setelah disuntik vaksin pada 18 Desember 2020.

Seperti dilaporkan USA Today, Rabu (6/1) penyebab kematian dokter kandungan ini adalah stroke hemoragik yang tampaknya disebabkan oleh kekurangan trombosit.

Pemeriksa medis Miami sedang menyelidiki kematiannya, menurut CNN.

Dalam sebuah posting Facebook, istrinya, Heidi Neckelmann, mengatakan tiga hari setelah divaksin, muncul bintik-bintik di kulit suaminya yang mengindikasikan pendarahan internal.

Masih menurut istrinya, kondisi yang menyebabkan stroke, adalah trombositopenia yaitu kondisi dimana jumlah trombosit yang lebih rendah dari normal.

Menurut penelitian pada 2003, vaksin campak, gondok dan rubella telah dikaitkan dengan trombositopenia pada anak kecil, meskipun kasusnya sangat jarang. Kondisi itu juga bisa disebabkan oleh kanker, anemia, banyak minum alkohol, virus, beberapa kondisi genetik, bahan kimia beracun dan obat-obatan seperti diuretik dan antibiotik kloramfenikol yang jarang digunakan.

Pfizer-BioNTech mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka memantau kasus yang dialami dokter tersebut.

“Kami secara aktif menyelidiki kasus ini, tetapi kami tidak yakin saat ini bahwa ada hubungan langsung dengan vaksin tersebut,” kata pernyataan itu.

Baca Juga :  Satu kasus COVID-19 ditemukan, dua juta warga Australia diisolasi

Menurut Pfizer, tidak ada indikasi – baik dari uji klinis besar-besaran juga di antara orang-orang yang telah menerima vaksin – bahwa vaksin itu mungkin terkait dengan trombositopenia.

Sementara itu, Pemerintah Norwegia juga sedang menyelidiki kematian dua penghuni panti jompo yang meninggal Selasa (5/1)setelah menerima vaksin Pfizer-BioNTech.

“Kami harus menilai apakah vaksin itu penyebab kematian, atau apakah itu kebetulan terjadi segera setelah vaksinasi,” kata Direktur Medis Steiner Madsen dalam sebuah pernyataan tentang kematian tersebut seperti dikutip laman RT, Selasa (5/1) lalu.

Faktor kebetulan menjadi pertimbangan penting karena sangat mungkin kematian itu terjadi secara kebetulan. Sekitar 400 orang meninggal setiap minggu di panti jompo Norwegia. Seperti kebanyakan negara-negera Eropa, warga lansia menjadi prioritas pertama mendapat vaksin Covid-19.

Badan Obat Norwegia bersama dengan Institut Kesehatan Masyarakat Nasional, sedang menyelidiki kematian tersebut.

Menurut Pfizer, efek samping yang mungkin terjadi adalah pembengkakan atau nyeri pada titik injeksi, kelelahan, demam atau sakit kepala, serta nyeri otot atau sendi. (Gatra.com)

 

Komentar Anda

covid19 Tekno