Sebastian Hutabarat Ditangkap, Walhi Sumut: Ini Pembungkaman

Sebastian Hutabarat Ditangkap, Walhi Sumut: Ini Pembungkaman

Oxomedia, Medan – Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumatera Utara, Doni Latuparisa, menilai penahanan yang dilakukan terhadap Sebastian Hutabarat merupakan upaya negara untuk membungkam kritik-kritik dari aktivis lingkungan atau pun aktivis lainnya.

“Ini kita duga ada upaya pembungkaman. Kita juga bisa melihat aktivis dibeberapa daerah lain yang dikriminalisasi,” kata Doni saat dihubungi Analisadaily.com, Rabu (6/1).

Doni lanjut menceritakan, seperti di Jawa Timur ada Salim Kancil yang dikriminalisasi atas kasus tambang pasir laut, kemudian aktivis masyarakat adat di Kalimantan, dan sampai saat ini, rekannya Golfried Siregar yang kasusnya belum ada titik temu, apa penyebab kematiannya.

Jadi memang, kata Doni, ia mengindikasi ada dugaan kriminalisasi terhadap aktivis lingkungan dan aktivis masyarakat serta masih banyak kasus-kasus yang lain.

“Kita pun sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh negara terhadap Sebastian. Dari sini kita juga melihat, ketika aktivis mengkritisi negara akan ada upaya-upaya kriminalisasi yang dihadapi,” sambung Doni.

Dalam hal ini, ia mengaku, Walhi Sumut akan mencari tahu mengenai persoalan awal, apalagi memang belum pernah mengkaji atau pendampingan terhadap kasus Sebastian Hutabarat.

Sebelumnya, Sebastian Hutabarat ditahan tim Kejaksaan di Sumatera Utara pada Selasa, 5 Januari 2021. ia dijemput dari rumahnya di Balige, Kabupaten Toba dan dibawa ke Lapas Pangururan, Kabupaten Samosir.

Penangkapan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Pelaksanaan Putusan Pengadilan (P-48) Nomor: Print-433 /L.2.33.3/Eoh, pertanggal 21 Desember 2020.

Sebagaimana putusan pengadilan Tinggi Medan Nomor: 167/Pid/2020/PT.MDN pada 08 April 2020 yang menyatakan terpidana Sebastian Hutabarat bersalah melakukan tindak pidana penistaan dengan pidana penjara selama satu bulan.

Peristiwanya berlangsung pada 15 Agustus 2017 di usaha tambang milik Jautir di Desa Silimalombu, Kabupaten Samosir. Saat kejadian, Sebastian dianiaya oleh Jautir.

Kasus bergulir di pengadilan, Jautir divonis bersalah pada 14 Maret 2019 di Pengadilan Negeri Balige, dengan hukuman dua bulan penjara.

Jautir lalu mengadukan Sebastian dengan tuduhan memfitnah. Pada 13 Maret dan 19 Maret 2019, Polres Samosir mengirim surat panggilan pertama dan kedua kepada Sebastian dengan status sebagai tersangka.

Sebastian kemudian dijatuhi vonis dua bulan oleh Ketua Pengadilan Negeri Balige Paul Marpaung pada 9 Januari 2020. Pasca vonis itu, Sebastian melakukan perlawanan hukum. (Analisadaily.com)

Komentar Anda

Lingkungan Sosok