HM Said, Perjuangan Wartawan dan Sejarawan

HM Said, Perjuangan Wartawan dan Sejarawan

Oxomedia, Medan- Surat Kabar Harian Waspada terbit sejak 11 Januari 1947 atau tepat 74 tahun silam. Adalah Almh Hj. Ani Idrus bersama suami tercintanya Alm H. Mohammad Said mendirikan harian yang ‘mengangkat’ bendera Republiken dan bersikap tegas dalam mendukung kemerdekaan RI itu. Kali ini, Oxomedia coba mengangkat kisah Haji Mohammad Said, sosok wartawan, politikus dan sejarawan pendiri Surat Kabar Harian Waspada.

Mohammad Said lahir di Labuhan Bilik, yang kini masuk wilayah Kabupaten Labuhan Batu, 17 Agustus 1905. Said memulai karir jurnalistiknya sebagai wartawan Surat Kabar Harian Tionghoa-Melayu “Tjin Po” tahun 1929. Kemudian menjadi Redaktur Pertama Surat Kabar “Oetoesan Soematra” yang dipimpin Dja Parlagoetan. September 1945, Said  dipercaya menggantikan Djamaluddin Adinegoro memimpin Surat Kabar “Pewarta Deli”. Bersama Tokoh Komunis – Nasionalis Karim MS, Said juga memimpin mingguan politik “Penjebar”. Sebelum mendirikan Waspada, Mohammad Said bersama wartawati Surat Kabar Sinar Deli Ani Idrus memimpin redaksi mingguan politik “Seruan Kita”. Pada Juli 1946 – 1948, atas mandat yang diberikan Adam Malik, dirinya dipercaya memimpin perwakilan Kantor Berita Antara di Sumatera. Tahun 1959, salah satu panitia ad hoc perumus Kode Etik Jurnalistik (KEJ) itu mendirikan Akademi Pers Indonesia di Medan sebagai sekolah jurnalistik pertama di luar Jawa.

Mohammad Said dikenal sebagai Nasionalis – Republiken sejati, dapat dilihat dari tajamnya artikel – artikel menentang kekuasaan Belanda yang terbit di berbagai surat kabar yang pernah disinggahi Said. Ia juga pernah membuka praktek kantor pengacara tanpa diploma (zakwaarnemer) yang umumnya membantu masyarakat yang dirugikan oleh rentenir. Satu-satunya wartawan yang ditunjuk Pemerintah RI meninjau Konfrensi Meja Bundar itu, pada awal 1950 memimpin kongres rakyat se-Sumatra Timur yang menuntut pembubaran Negara Sumatra Timur, yang dipropagandakan oleh kelompok Republiken sebagai negara boneka Belanda.

Baca Juga :  Lebah Begantong, yang Muda yang Mensyiarkan Budaya

Anak seorang petani itu juga dikenal sebagai sejarawan otodidak yang giat dengan self-study terus menerus. Hari-harinya diisi dengan membaca. Penuturan salah seorang cucunya kepada kami, hampir semua ruangan di rumah almarhum terdapat buku. Salah satu karya luar biasa Mohammad Said sebagai sejarawan adalah buku “Aceh Sepanjang Abad” yang kali pertama terbit pada 1961. Aceh Sepanjang Abad menjadi referensi bagi sejarawan kini, untuk mengetahui secara rinci pergolakan di Aceh dari masa ke masa.

Semasa hidupnya, Said juga terlibat aktif dalam organisasi politik. Antara 1950-1956, dirinnya menjabat Ketua Umum Partai Nasional Indonesia (PNI) untuk Sumut dan Aceh. Pada 1967, atas rekomendasi Ketua Umum dan Sekjend PNI Osa Maliki dan Usep Ranawidjaja, Mohammad Said menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), namun hanya bertahan setahun karena dengan hormat memilih mundur dari jabatan itu.

Pejuang pena kebanggan Sumatera Utara itu tutup usia pada Rabu, 26 April 1995 dalam usia 89 tahun. Almarhum meninggalkan seorang istri dan 12 orang anak (6 putra dan 6 putri) serta puluhan cucu. Jenazahnya dimakamkan hari Kamis, 27 April 1995 di pekuburan Muslim Jalan Thamrin, Medan. (TIM)

Komentar Anda

Humaniora Sosok