Dokter Berhijab Ini Akan Memimpin Kota Pematangsiantar

Dokter Berhijab Ini Akan Memimpin Kota Pematangsiantar

OXOMEDIA-Siantar,- Warga Kota Pematangsiantar baru-baru ini mengalami duka mendalam akibat ditinggal Wali Kota terpilih Asner Silalahi yang menghadap sang Maha Kuasa pada hari Rabu 13 Januari 2020. Sejatinya Asner Silalahi dan Pasangannya Susanti Dewayani sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pematangsiantar setelah menang melawan kotak kosong dengan meraih 87.733 suara.

Kejadian ini mengingatkan kita pada wafatnya Hulman Sitorus, calon Wali Kota Pematangsiantar yang menang pada Pilkada 2016, Hulman juga wafat sebelum dilantik bersama pasangannya Hefriansyah.

Hulman meninggal dunia pada pukul 04.00, Kamis, 8 Desember 2016 karena sakit jantung.

Saat itu KPU Pematangsiantar sudah mengumumkan pasangan Hulman Sitorus-Hefriansyah sebagai pemenang Pilkada 2016 dengan perolehan 59.401 suara.

Hefriansyah sendiri tidak dapat maju di Pilkada Pematangsiantar 2020 karena tidak mendapatkan kursi karena sudah diborong oleh pasangan Asner-Susanti.

Apa yang terjadi pada pasangan Asner-Susanti ini adalah kali kedua yang dialami kota Pematangsiantar.

Lalu siapa yang akan menjalankan pemerintah kota Pematangsiantar ke depan ? Tak lain adalah pasangan Asner di Pilkada Siantar , seorang perempuan berhijab Susanti Dewayani.

Mengenal Susanti Dewayani

Susanti Dewayani lahir di Bali, 28 Juni 1963, Isteri dari H. Kusma Erizal Ginting ini mengenyam pendidikan dari SD sampai kuliah di kota pelajar Yogyakarta. Selepas dari Sekolah Menengah Atas, Susanti pun melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. Ibu 2 orang anak ini pun kemudian menyelesaikan studi S2 nya di Fakulas Kedokteran Universitas Sumatera pada tahun 2000.

Pada tahun 2017 hingga tahun 2020, Dokter Spesialis Anak ini dipercaya menjabat Direktur RSUD Djasamen Saragih, Pematangsiantar. Tidak diketahui kiprahnya di dunia politik sebelum ia mencalonkan diri bersama Asner Silalahi.

Baca Juga :  Terulang, Wali Kota Siantar Terpilih Asner Silalahi Wafat Sebelum Dilantik

Tetap Dilantik Sebagai Wakil Wali Kota

Anggota KPU Provinsi Sumut, Benget Silitonga, menjelaskan, berdasarkan Pasal 164 Ayat 4 UU Nomor 10/2016 tentang Pilkada diatur bahwa dalam hal calon bupati dan calon wali kota terpilih meninggal dunia, berhalangan tetap, atau mengundurkan diri, calon wakil bupati dan calon wakil wali Kota terpilih tetap dilantik menjadi wakil bupati dan wakil wali kota meskipun tidak secara berpasangan. Selanjutnya Pasal 173 ayat 4 mengatur bahwa DPRD kabupaten/kota menyampaikan usulan pengangkatan dan pengesahan wakil bupati/wakil wali Kota menjadi bupati/wali lota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada menteri melalui gubernur untuk diangkat dan disahkan sebagai bupati/wali kota. “Pengisian wakil itu menjadi kewenangan parpol pengusung dan DPRD” tandas Benget. ( TA)

Komentar Anda

Polhukam Sumut