Berawal dari  ‘Dendam’, Pemuda Ini Membuka Sekolah dan Terima Investasi Bukalapak

Berawal dari ‘Dendam’, Pemuda Ini Membuka Sekolah dan Terima Investasi Bukalapak

Oxomedia, Medan– Berawal dari pengalaman kurang menyenangkan yang dialaminya, Yogi Adjie Driantama membangun sebuah wadah bagi anak putus sekolah untuk dapat terus belajar dan melanjutkan mimpi mereka.

Dikisahkan Yogi, ide itu muncul setelah usahanya melamar pekerjaan di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kandas lantaran ia tidak memiliki ijazah sarjana.

“Tahun 2018 aku melamar kerja di salah satu Bank milik pemerintah, semua tahapan sudah aku lalui tapi terhenti hanya karena aku ga punya ijazah sarjana,” ungkapnya.

Bagi Yogi, apa yang dialaminya itu merupakan sebuah pukulan besar, dirinya lulus semua tahapan ujian yang disyaratkan oleh Bank itu, tapi di akhir ia ditolak hanya karena belum sarjana.

“kalau boleh dibilang, ada ‘dendam’ saat itu, kenapa perusahaan hanya menerima pekerja berdasarkan tingkat pendidikan, mestinya karena kita memang memiliki kemampuan untuk menjalani pekerjaan itu,” ujarnya.

Yogi sempat melanjutkan pendidikan di bangku Universitas usai tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi kemudian harus terhenti karena orang tuanya tidak mampu membiayai lagi. Selepasnya, Yogi mencoba berbagai perkerjaan untuk membantu ekonomi keluarganya.

“Bayangkan, ada berapa banyak anak putus sekolah di negeri ini. Kami juga punya mimpi memiliki pekerjaan bergengsi dan kehidupan yang baik, tapi kalau semua perusahaan hanya menerima pekerja berdasarkan ijazah, maka nasib kami akan terhenti sebagai pekerja rendahan saja,” katanya.

Dilandasi pengalaman itu, menurut Yogi, sudah seharusnya anak-anak putus sekolah memiliki keahlian yang nantinya dapat dipakai untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri dan melanjutkan kehidupan dan mimpi mereka.

 

Mendirikan SemutSumut dan Masuknya Investasi dari CEO Bukalapak

Sebelum ditolak bekerja di Bank Pemerintah, Yogi sebetulnya sudah memiliki pekerjaan sebagai desainer grafis di sebuah restoran di Medan. Suatu ketika, bos tempatnya bekerja meminta sarannya, kegiatan apa yang baik dilakukan untuk menyalurkan Corporate Social Responsibility (CSR) restoran itu.

Baca Juga :  Persoalan Sosial di Kawasan Pesisir Minim Perhatian

“Aku ajukan bikin lembaga pendidikan gratis yang memberikan skill bagi anak putus sekolah, tapi ditolak karena dianggap kurang seksi,” katanya.

Tidak diterima bekerja di Bank Pemerintah yang diimpikannya dan idenya yang ditolak, membuat Yogi berfikir dia harus keluar mencari jalan lain untuk hidup yang lebih baik. Bermodal sedikit tabungan dari hasil bekerja di sebuah restoran, Yogi memberanikan diri melangkahkan kakinya di Ibu Kota Jakarta.

“Niatnya waktu itu mau ketemu teman, mau ikut gabung kerja di event organizer yang ada di sana,” cerita Yogi.

Di Ibu Kota, Yogi tinggal di kost sempit dan hidup sangat hemat karena memang tak banyak sisa uang yang ia pegang. Suatu hari, ia melihat di Instagram, Bukalapak sebuah e-commerce raksasa yang ada di tanah air mengadakan acara yang boleh dihadiri masyarakat luas.

“Datanglah aku, sekalian berharap dapat makan gratis waktu itu, haha..”, ungkap Yogi sembari tertawa kecil.

Pada acara itu, Ahmad Zaki, Founder dan CEO Bukalapak memberi kesempatan bagi peserta yang hadir untuk menyampaikan ide yang dimiliki tentang usaha dan kegiatan yang berdampak sosial luas. Yogi pun menyampaikan idenya tentang pendidikan gratis yang memberikan keahlian bagi anak putus sekolah.

“Ga nyangka, Zaki meresponnya dengan sangat baik,” ungkapnya.

Selepas acara itu, salah seorang staf Ahmad Zaki menemuinya dan mengatakan CEO Bukalapak itu tertarik  dan ingin berinvestasi pada idenya.

“Sempat aku tolak, aku takut kecawa lagi, aku bilang nanti aku fikirkan dulu,” katanya.

Tak lama setelah acara itu, Yogi memilih kembali ke Medan dan merasa idenya harus segera diwujudkan secara mandiri,

“Duit udah ga ada, aku telfon kawan dekat perempuanku, pinjam duit dia untuk bisa balik ke Medan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Intoleransi dan Ekstremisme dalam Persepsi Generasi Muda

Setiba di Medan, Yogi menghubungi beberapa kawan yang dianggapnya memiliki keahlian di bidang Audio Visual. Di awal, para pendidik tidak dibayar sama sekali. Untuk menjalankannya, Yogi membuka donasi di kitabisa.com, dan peserta didik ia cari bersama teman-temanya hingga ke kampung-kampung di sekitar Medan.

SemutSumut dipilih Yogi sebagai nama lembaga pendidikan gratis itu. “Seperti Semut, kita-kita yang ‘kecil’ ini pasti bisa berbuat banyak kalau mau saling membantu,” ujar pemuda 26 tahun itu.

SemutSumut memberikan pendidikan audio-visual gratis bagi anak putus sekolah melingkupi Desain Grafis, Video Editing dan Public Speaking. Para peseta didik, setelah dirasa memiliki cukup keahlian di bidang yang diminati, kemudian diberikan pilihan untuk bekerja di perusahaan yang memerlukan jasa mereka atau ikut dalam project yang digarap SemutSumut.

“SemutSumut punya unit usaha namanya Derana, dari situ peserta didik dapat menyalurkan ilmunya dan mendapat penghasilan,” tukas Yogi.

SemutSumut berjalan baik dan beberapa angkatan telah dihasilkan. Ternyata, apa yang pernah ditawarkan Ahmad Zaki satu tahun lebih sebelumnya di Jakarta datang lagi.

“Serius ternyata, akhirnya aku terimalah tawaran investasi dari CEO Bukalapak,” katanya.

Pada Juli 2020, Ahmad Zaki, CEO Bukalapak itu membeli saham SemutSumut sebesar 30% dengan nilai investasi yang cukup fantastis. Yogi mengaku, meski mendapat suntikan dana yang cukup besar, dirinya tidak menjadikan SemutSumut sebagai pure bisnis, tujuan utamanya tetap sama yaitu memberikan keahlian bagi anak-anak putus sekolah hingga mereka dapat menjadikan keahlian itu untuk menjemput mimpi berkehidupan yang lebih baik.

Rencana ke depan, kata Yogi, Derana sebagai unit bisnis SemutSumut akan berpindah kantor ke Jakarta dengan target mendapatkan klien yang lebih besar dan dikenal secara nasional.

Baca Juga :  Fakta Myanmar: Negara Miskin dan Penghasil Heroin Terbesar

“Insya Allah, kita juga akan adakan pembelajaran online melalui aplikasi berbasis web, hingga dapat menyentuh beberapa kota di Indonesia,” jelasnya. (TIM)

 IG: Semut Sumut

Komentar Anda

Humaniora Sosok