Dilandasi Cinta, Irwanto Selesaikan Masalah Keyboard Erotis dan Degradasi Moral di Kampungnya

Dilandasi Cinta, Irwanto Selesaikan Masalah Keyboard Erotis dan Degradasi Moral di Kampungnya

Oxomedia, Deli Serdang- Suasana asri dan hangat khas perkampungan langsung terasa saat kami tiba di Sanggar Lingkaran yang berlokasi di Desa Denai Lama, Pantai Labu, Selasa (19/1). Bergelas-gelas kopi V60 Kenya menemani perbincangan kami bersama sosok inspiratif di balik perubahan besar bagi masyarakat sekitar ‘Kampung Lama’ Paloh Naga itu.

Dilandasi rasa cinta yang besar, Irwanto kembali ke kampung halamannya dan mendirikan Sanggar Lingkaran sebagai wadah perubahan bagi masyarakat di kampung tempat ia menghabiskan masa kecil dan bertumbuh.

“Tahun 2013, kasus anak-anak nge-lem, keyboard erotis dan beragam degradasi moral sedang marak di sini, itu pula satu yang mendorong saya memutuskan harus membuat gerakan perubahan bagi kampung ini,” ungkapnya.

Sekitar tahun 2013 – 2016, di kampungnya tengah marak pementasan keyboard erotis yang merusak moral anak-anak muda di sana. “Sangat meresahkan, AJO atau Anak Joget tengah digandrungi remaja di sini,” diceritakannya.

Dikisahkan Irwan, setiap diadakan pementasan keyboard erotis, anak-anak remaja usia SMP dan SMA baik lelaki dan perempuan datang beramai-ramai untuk berjoget. Tak sekedar berjoget, mereka juga mengonsumsi minuman keras. Fenomena kawin muda, hamil muda karena ‘kecelakaan’ pun marak saat itu.

Dengan tidak menyerang atau menggunakan kekuatan struktural, Irwan mengajak dan memberi penyadaran pada beberapa pemuda tempatan, untuk bersama-sama menjadi solusi berbagai permasalahan sosial di kampung mereka.

“Sanggar Lingkaran ini kami dirikan sebagai wadah berkegiatan positif bagi anak muda di sini, berkegiatan seni budaya dan belajar tentang pendidikan karakter,” jelasnya.

Di tengah maraknya gempuran budaya asing yang merusak moral, Irwan dan kawan-kawannya berhasil meyakinkan masyarakat khususnya remaja di kampung itu bahwa budaya lokal justru lebih menarik dan bernilai.

Baca Juga :  Percobaan Kudeta Pertama di Indonesia, Kala Suharto Menolak Sukarno

“Salah satunya dengan pementasan teater, kami hadir saat ada acara kampung, mencoba menggugah kesadaran masyarakat betapa destruktifnya pementasan keyboard erotis bagi masa depan anak-anak,” ceritanya.

Usaha keras Irwan dan kawan-kawannya menjadi ‘terang’ bagi kampung mereka tidak sia-sia. Tahun 2016, perlahan fenomena keyboard erotis dan anak joget mulai berkurang dan kini hilang total.

Di Sanggar Lingkaran, selain berkegiatan kesenian ada pula Taman Bacaan Masyarakat yang mendapat penghargaan 3 besar TBM Kreatif dan Rekratif dari Kemendikbud, ada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan di tahun 2018, Irwan dan kawan-kawan berhasil menciptakan satu objek wisata baru yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat, Agrowisata Paloh Naga yang menawarkan pemandangan eksotis persawahan masyarakat ‘Kampung Lama’ bagi pengunjungnya.

“Masa kecil saya di sini bahagia, ada kepingan hidup saya di sini, saya mencintai kampung ini dan itu alasan kembali pulang,” tukas Irwan. (TIM)

Komentar Anda

Sosok Sumut