Bagaimana Jepang Mudah Mengusai wilayah Indonesia walau dengan Sedikit Pasukan?

Bagaimana Jepang Mudah Mengusai wilayah Indonesia walau dengan Sedikit Pasukan?

Oxomedia, Jakarta – Pada masa Meiji yang terjadi pada tahun 1868 sampai 1912, orang Jepang mulai banyak yang datang ke Hindia Belanda. Mereka ini menjadi pelacur, pedagang kelontong dan nelayan. Setelah era Meiji berakhir dan prostitusi dilarang oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, orang Jepang ternyata masih menjalankan bisnis itu meski gelombang kedatangan orang-orang negeri matahari terbit pada masa kemudian lebih didominasi oleh mereka yang bergerak dalam bidang perdagangan, pertanian, industri perikanan, serta investor pabrik elektronik pada tahun 1930-an. Pada tahun 1938 atau tiga tahun sebelum kumandang perang Jepang-Belanda, setidaknya terdapat 6.349 orang Jepang yang tinggal di Hindia-Belanda. Di antara ribuan orang tersebut ada mata-mata yang menyamar sebagai wiraswasta, yaitu pemilik toko kelontong.

Pada tahun 1941, pemerintah Jepang melalui kedutaan besar dan konsulatnya di Hindia-Belanda membujuk para warganya untuk kembali ke tanah air. Para orang Jepang ini secara bertahap kembali ke negaranya dan kapal pertama yang mengangkut mereka adalah Kitano Maru yang berisi perempuan dan anak-anak. Kapal terakhir yang mengangkut orang Jepang kembali ke negerinya adalah Fuji Maru yang diisi sekitar lima ribu orang. Meskipun demikian, masih ada orang Jepang di Hindia-Belanda dan mereka ini ditangkap pada tahun 1942 selepas pengumuman perang Belanda-Jepang di akhir tahun 1941. Mereka yang ditangkap menurut pemerintah Hindia-Belanda merupakan mata-mata Kaigun atau Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Mata-mata Kaigun yang tidak sempat kembali ke Jepang ini kemudian diungsikan ke Australia seiring semakin mendekatnya tentara Dai Nippon di wilayah Hindia-Belanda.

Meskipun demikian, sebagian besar pemilik toko kelontong yang merupakan kalangan wiraswasta diketahui telah kembali ke Jepang. Pada masa pendudukan Jepang, hanya sekitar tujuh ratus dari mereka yang kembali ke Hindia. Mereka kembali bukan lagi sebagai pemilik toko kelontong, melainkan berstatus sebagai pegawai militer Jepang. Hal ini menguatkan dugaan bahwa mata-mata Jepang adalah para pemilik toko kelontong pada masa Hindia-Belanda. Toko kelontong merupakan suatu tempat ideal dalam mengumpulkan informasi, tidak hanya geografis tapi juga kekuatan militer Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL).

Baca Juga :  Jabir Ibnu Hayyan, Pakar Kimia Islam yang Ubah Takhayul Menjadi Sains

Salah satu mata-mata Jepang yang telah dapat diverifikasi adalah Tomegorō Yoshizumi (1911–1948). Pada tahun 1932, Yoshizumi pertama kali mendarat di Hindia-Belanda, tepatnya Pulau Jawa, untuk bekerja di rumah bordil. Di tempat pelacuran itu, Yoshizumi diketahui merekrut orang Jawa sebagai agen mata-mata Jepang. Ia juga menyamar sebagai jurnalis Nichiran Shōgyō Shinbun dan bekerja di toko kelontong Toko San’yo. Yoshizumi tidak hanya beroperasi di Jawa, tapi juga Sulawesi Utara. Ia juga sempat mendirikan Tōindo Nippō, koran berbahasa Jepang yang merupakan gabungan Nichiran Shōgyō Shinbun dan Jawa Nippō.

Yoshizumi juga diketahui sangat dekat dengan kalangan nasionalis Indonesia. Ia merupakan penghubung antara Jepang dan kalangan nasionalis. Yoshizumi adalah anggota Kaigun atau Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang diketahui direkrut dan merupakan bawahan Laksamana Tadashi Maeda. Perumusan teks proklamasi di rumah Maeda tidak lain karena peran Yoshizumi dan teman-teman mata-matanya. Pada saat perang kemerdekaan, Yoshizumi menolak perang ke negaranya dan membelot membela Indonesia. Ia sendiri bergabung dengan kelompok Tan Malaka dan memasok senjata yang didapatkan dari Kaigun. Yoshizumi yang lantas berganti nama menjadi Arip meninggal di Blitar pada saat perang gerilya karena menderita penyakit paru-paru dan dimakamkan di Makam Pahlawan Blitar.

Keberadaan mata-mata Jepang ini sangat penting dalam penguasaan Hindia-Belanda yang hanya membutuhkan waktu sekitar empat bulan saja. Tentara Hindia-Belanda pun keok dan menyerah tanpa syarat kepada Kekaisaran Jepang pada 8 Maret 1942. Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Tjarda van Starkenborgh Stachouwer, harus menandatangani Perjanjian Kalijati yang menjadi penanda diserahkannya Hindia-Belanda kepada Jepang. Mata-mata Jepang mayoritas berasal dari angkatan laut yang menyamar sebagai pemilik dan pekerja toko kelontong sampai jurnalis. Perekrut mata-mata di tubuh angkatan laut ini tidak lain adalah Laksamana Tadashi Maeda.

Baca Juga :  Sejarah Suku Cherokee, Suku Muslim Indian Amerika (2)

Mata-mata Jepang yang terkenal tidak hanya Tomegorō Yoshizumi, tapi juga Ichiki Tatsuo dan Shigetada Nishijima. Mata-mata Jepang setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu juga diketahui banyak yang membelot membela kemerdekaan Indonesia. Hal ini terjadi karena mereka telah berhubungan lama dengan kalangan nasionalis Indonesia sejak masa sebelum perang. Mata-mata Jepang pun diketahui tidak hanya dari kalangan orang Jepang saja, namun juga orang-orang lokal yang direkrut memata-matai kekuatan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. (Quora)

Komentar Anda

Peristiwa