Arabika Sumatra, Jalan Panjang Kopi Terbaik di Dunia

Arabika Sumatra, Jalan Panjang Kopi Terbaik di Dunia

Oxomedia– Jalan panjang kopi jenis Arabika Sumatra dimulai sejak kehadiran kolonial Belanda di Kepulauan ini. Dalam catatan sejarah, pada tahun 1696 Belanda memasukkan jenis Kopi arabika ke Batavia atau yang kini dikenal sebagai Jakarta dan didatangkan langsung dari Yaman. Sayangnya, kopi jenis ini tidak bertahan lama karena serangan hama. Belanda kemudian menggantinya dengan jenis yang lebih tahan hama yaitu Liberika. Kopi jenis liberika saat ini masih dapat ditemui di daerah Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan.

Di Sumatera sendiri, catatan pertama mengenai budidaya kopi dapat ditemui dari laporan pejabat perusahaan Hindia Timur Britania, William Marsden. Dalam bukunya The History of Sumatra yang terbit pertama kali tahun 1783, Marsden menyebut bahwa berdasarkan penyidikannya di Sumatera pada tahun 1771 atau lebih seabad sebelum Pemerintah Kolonial Belanda mulai membudidayakan kopi, masyarakat tempatan sudah membudidayakan kopi.

Kopi mulai menjadi komoditas perkebunan di Sumatera Timur masa itu pada tahun 1878. Penanamannya tersebar di daerah Pertumbukan dan perbatasan Simalungun. Disebutkan, Sultan Serdang memiliki kebun kopi di daerah Serdang Hulu. Namun, tanaman itu musnah akibat serangan hama penyakit.

Budidaya kopi di Serdang baru berhasil tahun 1890, sejalan dengan krisis tembakau di Sumatera Timur, “Disebut bahwa budidaya kopi berhasil dikembangkan di Serdang Hulu yang dikembangkan oleh ahli tanam bernama Giovanni,” ujar Erond L Damanik, peneliti di Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan.

Selanjutnya, menurut Erond L Damanik dalam bukunya Kisah dari Deli: Historitas, Pluraritas, dan Modernitas, 2006, komoditas kopi mulai ditanam di dataran tinggi Pakpak Dairi sejak 1935, yakni di Sidikalang. Pada era kolonial, kopi adalah satu-satunya komoditas yang dikembangkan di dataran tinggi Toba, Pakpak Dairi, dan Gayo. Jenis kopi yang ditanam adalah Arabika dan Liberika pada ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Sebelumnya, pada tahun 1900, saat kedua jenis kopi tersebut mengalami stagnasi akibat mudah diserang hama, Belanda mulai memperkenalkan jenis kopi Robusta (Coffea Canephora) yang lebih tahan penyakit dan pemeliharan yang lebih ringan.

Baca Juga :  Lagi, PPKM Mikro diperpanjang

Namun saat ini, pulau Sumatera merupakan penghasil kopi jenis Arabika terbesar di dunia. Tak hanya di Indonesia, kopi jenis Arabika Sumatra juga menjadi primadona dan paling banyak diminati oleh eksportir dan importir kopi di dunia. Kopi Arabika Sumatra dinilai memiliki citarasa dan aroma yang kuat. Bahkan gerai kopi kelas dunia Starbucks menyediakan beragam kopi Arabika Sumatra untuk diminum langsung pun dalam bentuk kemasan.

“Kami menjual lebih dari 10 jenis biji kopi, tapi kopi Sumatera selalu menjadi nomor satu. Tak hanya di Indonesia, juga di seluruh dunia,” kata Direktur Starbucks Indonesia Anthony Cottan seperti kami lansir dari kompas.com

Karakteristik berbeda dari biji kopi Sumatra  dianggap paling pas untuk campuran bahan lain seperti gula dan susu, tanpa menghilangkan rasa dan aroma kopi. “Sumatera sangat kuat dan bisa dinikmati dengan ragam cara,” ungkap Cottan.

Arabika  menjadi jenis Kopi asal Sumatera yang paling banyak diminati. Aceh, daerah paling ujung Sumatera ini diketahui sebagai penyumbang terbesar devisa negara untuk kopi. Dengan andalannya yaitu jenis Arabika dari dataran tinggi Gayo, Aceh telah mendominasi ekspor kopi Indonesia dengan rata-rata hingga 60% lebih. (TIM)

Komentar Anda

Humaniora