Kisah Para Perempuan Pencari Tiram di Alue Naga

Kisah Para Perempuan Pencari Tiram di Alue Naga

Meski tiram banyak diminati penikmat kuliner, nasib petani tiram masih memprihatinkan.

Oxomedia, Banda Aceh – Ratusan batang bambu tertancap dan tersebar di sepanjang mulut sungai Alue Naga. Jarak sisi kanan kiri bambu tak beraturan. Ada yang memanjang, petak, ada juga melingkar. Beberapa tonggak bambu digantungi ban-ban bekas dan dipasangi jaring ikan. Itulah cara petani tiram memasang perangkap.

Sudah bertahun-tahun warga menjadikan kawasan sungai Desa Alue Naga, Tibang, Banda Aceh, sebagai lokasi mencari tiram. Setiap hari, petani tiram yang umumnya perempuan paruh baya antara 50 hingga 60 tahun, mencebur dan berendam dari sebelum fajar hingga matahari jatuh ke barat.

Mereka berbekal jaring, keranjang, fiber, dan pisau. Kepalanya ditutupi pelindung topi lebar, kaus kaki, sepatu, serta sarung tangan berlapis agar tak tergores karang, batu dan kulit tiram.

“Kaki dan jari-jari tangan sering berdarah kena karang. Tapi sakit itu hilang ketika kami mendapat tiram,” cerita Nurhayati, 51 tahun, petani tiram.

Nurhayati mencari tiram berdua bersama Zulkifli, 63 tahun, suaminya. Dia bercerita sudah mencari tiram di kawasan Alue Naga, Kecamatan Syah Kuala, Banda Aceh, sejak sebelum tsunami melanda Aceh pada 2004. Keduanya adalah warga asli di sana.

Dia dan suami biasanya pergi mencari tiram pada saat pagi, siang, dan sore hari, tergantung kondisi air sungai. “Saat air pasang, hasil yang didapat lebih sedikit dibandingkan ketika air surut,” katanya.

Nurhayati membawa pulang tiram-tiram itu menggunakan sepeda motor. Setelah sampai di rumah, tiram hasil tangkapannya didiamkan beberapa saat, lalu dikupas dan dicuci hingga bersih. Barulah setelah itu tiram-tiram dimasukkan ke plastik dan siap dipasarkan.

Baca Juga :  107 Hektare Hutan dan Lahan di Aceh Terbakar Februari 2021, Kerugian Rp 14,9 Miliar

“Tiram ini dijual seukuran wadah deterjen B29 seharga Rp10 ribu per plastiknya kalau diambil ke rumah. Tapi kalau dibawa ke tauke atau pengumpul dijual dengan harga Rp15 ribu,” jelas Nurhayati kepada KBA.ONE, Selasa 01 November 2020.

Nurhayati bilang sesekali sembari mencari tiram ia mendapat udang, kepiting dan kerang. Harga kerang bisa dia jual Rp20 ribu perkilogramnya. Tapi, kata Nurhayati, sehari paling banyak orang memesan kerang tiga kilogram. “Mungkin karena mahal makanya jarang ada permintaan,” katanya.

Ibu empat anak ini mengaku hasil penjualan tiram digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari meski serba pas-pasan.

Selain mencari tiram, sesekali ia juga menjual ikan cuale (ikan layur) yang dibeli dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Lampulo. Ikan-ikan itu dikeringkan terlebih dahulu baru dijual.

“Itu kalau ada uang lebih, kalau gak ya kami cuma cari tiram saja,” kata Nurhayati yang mengaku kebutuhan hidupnya sehari sekitar Rp100 ribu.

Meski hidup seadanya, Nurhayati tak pernah berniat berhenti mencari tiram. “Apapun pekerjaan yang penting halal dan selalu mendatangkan rezeki untuk keluarga,” ucapnya.

Apakah pernah mendapat bantuan pemerintah? Nurhayati mengaku pernah didatangi dan didata oleh pemerintah untuk diberi bantuan peralatan yang layak bagi usahanya. Tapi hingga kini janji itu hanya bualan semata.

Pencari tiram lain, Nurfaridah, 36 tahun, dan suaminya Fahrurrazi, 36 tahun, juga berbagi kisah bagaimana suka duka selama 25 tahun mencari tiram. “Per hari kadang bisa dapat Rp30-40 ribu. Pas-pasanlah untuk biaya hidup sehari-hari. Penghasilan kami tidak tentu. Tapi tetap bersyukur,” ungkapnya.

Ibu tiga anak ini mengatakan selepas mencari tiram dia juga berjualan ikan kering seharga Rp35-45 ribu per kilogram. Tergantung harga ikan saat itu. “Harapan saya nantinya bisa lebih baik, maju, dan penghasilan pun makin bertambah serta bisa ditabung,” katanya lirih.

Baca Juga :  Pengukuhan Pengurus Aceh Sepakat

Berbeda lagi cerita Murni, 46 tahun. Warga Blang Bintang, Aceh Besar, ini baru enam tahun mencari tiram bersama tetangganya. Dia menghidupi empat anaknya setelah suaminya meninggal korban tsunami. “Syukurlah, selama proses belajar daring, anak-anak pada di rumah dan bisa membantu mengupas tiram,” katanya.

Penghasilan Murni sekitar Rp40 ribu sehari. Dia juga menjual ikan layur (ikan tali pinggang) dipasarkan dengan harga Rp40 ribu per kilogram. “Kalau pas pulang kampung saya ke sawah menanam padi,” cerita murni.

Kebutuhan tiram di Banda Aceh boleh dibilang cukup tinggi untuk memenuhi pasar di rumah-rumah makan dan restoran kelas menengah ke atas. Bahkan, Pemerintah Kota Banda Aceh telah menetapkan beberapa gampong (desa) menjadi lokasi budidaya tiram modern, termasuk di Gampong Alue Naga.

Pertanyaannya, mengapa petani tiram, satwa laut kelompok kerang-kerangan bernama latin Crassostresp, ini tidak ada yang sejahtera? Inilah dilema hidup perempuan-perempuan paruh baya pencari tiram di Alue Naga. (KBA.ONE)

Komentar Anda

Humaniora