Sejarah Perang yang  tidak diketahui banyak Orang

Sejarah Perang yang tidak diketahui banyak Orang

Oxomedia, Anchorage – Tidak banyak yang mengetahui Peperangan di Attu, Pulau kecil di Samudera Pasifik pada tahun 1943. Antara tentara Amerika dengan tentara kekaisaran Jepang di lepas pantai Alaska. Peperangan ini berlangsung selama 20 hari yaitu dari 11 Mei hingga 30 Mei 1943.

Peperangan untuk merebut wilayah Attu yang direncanakan tentara Amerika dapat dikuasai dalam 2-3 hari ini ternyata berlangsung melebihi perkiraan. Pulau Attu adalah pulau yang terjauh di Alaska, tanah kelahiran bangsa suku Unangax yang selama ribuan tahun telah bermukim di sini.

Tanah dengan wilayah pegunungan yang sangat indah yang menjadi arena peperangan pada perang dunia ke II. Peperangan di tanah Amerika, sebuah peperangan yang paling terlupakan sepanjang sejarah dan telah mengubah kehidupan banyak orang.

Peperangan di Attu

Pada tanggal 7 Juni 1942, tentara Jepang menginvasi dan mengibarkan bendera di seluruh penjuru pulau Attu, penduduk aslinya diungsikan ke Jepang pada musim gugur itu, dan bagi penduduk yang tidak mau akan dipenjarakan. Sepanjang masa pengungsian setengahnya meninggal dunia selama didalam penjara.

Awal penyerbuan dilakukan oleh tentara Amerika dengan menggunakan kapal perang. Unit-unit Infanteri ke-17 dari Divisi Infanteri ke-7 Amerika Serikat melakukan pendaratan amfibi di Pulau Attu untuk merebutnya dari 2.650 tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang di bawah pimpinan Kolonel Yasuyo Yamasaki.

Meskipun Angkatan Laut Amerika sudah membombardir posisi-posisi Jepang secara habis-habisan dari laut, tentara Amerika menghadapi perlawanan keras dari parit-parit pertahanan Jepang. Meski tentara Amerika Serikat menang dalam jumlah, mereka tidak disiapkan untuk bertempur pada kondisi cuaca Arktik dan hanya dilengkapi pakaian untuk berperang di daerah tropis. Korban akibat cuaca dingin, radang dingin dan kaki membeku melebihi jumlah tentara yang luka akibat tembakan musuh.

Baca Juga :  Bus gandeng di Kota New York jatuh 15 meter dan menggelantung di jembatan layang dalam 'kecelakaan mengerikan'

Namun setelah dua minggu pertempuran yang kejam, unit-unit tentara Amerika berhasil menekan posisi pertahanan Jepang hingga ke kantong-kantong di sekeliling Pelabuhan Chichagof.

Tentara Yamasaki bertahan di posisi terakhir mereka di tempat-tempat ketinggian antara Chichagof dan Teluk Sarana. Kolonel Yamasaki yang tahu kekalahan Jepang tak dapat dielakkan, melancarkan gelombang serangan banzai terbesar dalam sejarah Perang Pasifik.

Menjelang fajar 29 Mei 1943, tentara Jepang yang bersembunyi keluar dari perbukitan untuk menyerang dengan serangan Banzai. Pihak Amerika menggambarkannya sebagai “sebuah gerombolan yang melolong dengan kekuatan seribuan orang” yang melibas sebuah pos medis dan dua pos komando sebelum dapat dihentikan.

Pada pagi keesokan harinya semua tentara Jepang yang masih hidup, bunuh diri dengan granat. Granat dipasang di dada dan di kepala. Situasi yang sangat liar. Perang berakhir di Engineer Hill, bukit ini dinamai Engineer Hill untuk mengenang Batalyon Insinyur Tempur ke-50 (Seabees), yang mengusir serangan balik Jepang terakhir di Attu.

Medan perang ini dinyatakan sebagai bagian paling berani pada Perang Dunia II dan menjadi Monumen Nasional Pasifik pada November 2008. Situs ini terdiri dari sejumlah peringatan, kuburan massal Jepang dan perbentengan.

Kini pulau Attu ini kembali seperti sediakala seperti 76 tahun yang lalu, dimana terdapat panorama perbukitan, alamnya yang indah dan keanekaragaman satwa liar hidup disini. Tampak bekas peninggalan perang namun satu hal yang tidak pernah dilupakan oleh tentara Amerika adalah pengorbanan darah dan nyawa pernah ada disini.

Para tawanan penduduk asli pulau Attu tidak diperbolehkan kembali ke tanah kelahirannya, mereka dipindahkan di pulau-pulau sekitarnya. Pulau Attu menyimpan cerita tentang pengorbanan dan penyembuhan sisa-sisa bekas luka perang. Tempat penuh kenangan.

Baca Juga :  Foto-foto dari Nasa ungkap keberadaan 'sungai emas' di Amazon

“Untuk mengenang semua orang yang mengorbankan hidup mereka di pulau dan laut pasifik utara selama perang dunia II dan didedikasikan untuk perdamaian dunia” terukir pada tugu memorial ini. (id.quora.com)

Komentar Anda

Humaniora