Memulihkan Ekosistem kawasan Konservasi melalui Kemitraan

Memulihkan Ekosistem kawasan Konservasi melalui Kemitraan

Oxomedia, Medan, – Dalam rangka penguatan fungsi kawasan suaka alam (KSA) dan kawasan pelestarian alam (KPA) serta konservasi keanekaragaman hayati, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menjalinkerjasama kemitraan konservasi, dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.44/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2017 dan Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem No.P6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam

Kerjasama kemitraan konservasi yang dibangun pada dasarnya dalam rangka pemulihan ekosistem guna mengembalikan fungsi KSA dan KPA, dan ditekankan tidak mengubah bahkan tetap mempertahankan fungsi KSA dan KPA tersebut.

Sepanjang tahun 2017 s.d 2020, Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah menjalin kerjasama kemitraan konservasi dengan 9 (sembilan) Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di beberapa kawasan konservasi.

Dari 5 kerjasama kemitraan konservasi yang dilakukan dengan KTH di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, masing-masing : KTH Tumbuh Subur, KTH Indah Bersama, KTH Gading Hijau, KTH Mangrove Sejahtera dan KTH Harapan Indah, 3 (tiga) diantaranya telah memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat dan manfaat bagi pengelolan kawasan hutan

KTH Tumbuh Subur, yang memulai kerjasama kemitraan sejak tahun 2017, dalam rangka pemulihan ekosistem, dengan areal kemitraan seluas 244 Ha di desa Tapak Kuda Kec Tanjung Pura telah melakukan upaya pemulihan ekosistem dengan menanam tanaman asli baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif yang bermanfaat bagi masyarakat seperti tanaman petai, sirsak, jambu, mangga yang berdampingan dengan tanaman kehutanan seperti nyamplung, matabuaya, bira-bira, putat.

Di samping itu di celah-celah tanaman pohon, masyarakat bisa melakukan budidaya palawija yang sebelumnya telah mereka lakukan seperti cabai, terong, sayur-sayuran dan semangka, Saat ini masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Tumbuh Subur sudah dapat merasakan hasil dari kemitraan konservasi berupa panen buah-buahan.

Baca Juga :  Bayi Gajah Baru Lahir di Tangkahan, Menteri KLHK: Diberi Nama Siapa?

Kelompok Tani Hutan Indah Bersama, memulai kerjasama kemitraan dalam rangka pemulihan ekosiostem sejak tahun 2019, dengan areal kemitraan konservasi seluas 207 hektar, yang berada pada blok rehabilitasi SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut di Desa Suka Maju Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

Secara bertahap masyarakat akan mengganti tanaman non kehutanan seperti kelapa sawit dengan jenis tanaman asli baik tanaman kehutanan maupun tanaman produktif yang bermanfaat bagi masyarakat seperti petai, sirsak, melinjo, cempedak dan tanaman kehutanan jenis-jenis putat, mata buaya, nyamplung dan berembang.

Pada lantai hutan masyarakat menanam jenis-jenis palawija seperti cabai, tomat, terong dan budidaya buah semangka. Saat ini masyarakat yang tergabung dalam KTH Indah Bersama saat ini sudah merasakan manfaatnya dengan memanen buah.

Kelompok Tani Hutan Gading Hijau, memulai kerjasama kemitraan dalam rangka pemulihan ekosistem sejak tahun 2019, dengan areal kemitraan seluas 125 hektar, yang pada umumnya eks tambak udang dan ikan.

Areal kemitraan KTH ini berada pada blok rehabilitasi SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut di Desa Karang Gading Kecamatan Labuhan Deli Kabupaten Deli Serdang, yang melakukan upaya pemulihan ekosistem dengan pola silvofishery yang memadukan budidaya ikan bandeng dengan teknik empang  paluh dan budidaya tanaman asli jenis-jenis mangrove.

Dengan melakukan penanaman jenis mangrove pada areal bekas tambak justru meningkatkan hasil budidaya perikanan yang mereka lakukan. Pada akhir tahun 2020, Kelompok Tani Hutan Gading Hijau telah mulai menuai hasil dengan panen ikan Bandeng sebanyak ± 600 kg, lihat foto/dokumentasi terlampir.

Ini merupakan sebagian gambaran keberhasilan program kerjasama kemitraan konservasi yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan beberapa kelompok tani hutan, yang manfaatnya sudah dirasakan baik oleh kelompok tani maupun masyarakat nelayan lainnya, yang juga mulai menikmati kelimpahan ikan dampak dari pemulihan ekosistem.

Baca Juga :  Berkurangnya Area Hutan 'picu' Banjir terbesar di Kalimantan Selatan

Kerjasama kemitraan konservasi menjadi penting perannya, karena melalui kerjasama ini ada pengakuan masyarakat dan penyerahan kawasan konservasi yang selama ini dikuasai/diusahai oleh segelintir orang, kepada pemerintah dalam hal ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan sekaligus ditindaklanjuti pula dengan lahirnya kesepahaman/kesepakatan bersama guna merestorasi kawasan konservasi tersebut.

Selain itu kemitraan konservasi juga menjadi salah satu resolusi konflik tenurial di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang telah terjadi sejak era tahun 1990-an, dimana oknum perambah diharapkan dapat bermitra dengan pemerintah untuk menghentikan kegiatannya, dengan tetap mendapatkan manfaat dari kawasan.

Namun bila para perambah tetap bertahan dan menolak pola kemitraan konservasi, maka upaya terakhir yang akan ditempuh oleh pemerintah adalah melalui penegakan hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Jadi proses hukum bukan yang utama dan terutama untuk diterapkan, melainkan pilihan terakhir yang ditempuh jika masyarakat tetap bertahan melakukan aktifitas perambahan di dalam kawasan.

Kemitraan konservasi juga salah satu dari 10 cara baru pengelola kawasan konservasi, dimana masyarakat dijadikan sebagai subyek pengelolaan serta bentuk dari penghormatan hak asasi manusia (HAM). (BOB/REL)

Komentar Anda

Lingkungan