Mengangkat Tanah Melayu Naik Level Lewat Tol Trans Sumatera

Mengangkat Tanah Melayu Naik Level Lewat Tol Trans Sumatera

Oxomedia, Jakarta – Kehadiran Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) menjadi harapan baru pemacu pertumbuhan ekonomi di pulau Sumatera. Tersambungnya JTTS akan mengubah Sumatera menjadi motor yang lebih kencang dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional.

Berdasarkan data BPS Februari 2021, saat ini Pulau Sumatera menjadi penyumbang ekonomi terbesar kedua setelah Jawa dengan sumbangsih 21,36%. Terbangunnya JTTS dipercaya akan mengangkat pulau berjuluk Bumi Melayu tersebut naik level meningkatkan laju roda perekonomian di masa depan.

Trans Sumatera Digenjot

Pembangunan tol Trans Sumatera merupakan salah satu agenda prioritas pemerintah. Proyek yang telah lama diinisiasi ini akhirnya ditugaskan kepada PT Hutama Karya (HK) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 117 Tahun 2015 tentang perubahan Perpres Nomor 100 Tahun 2014 tentang percepatan pembangunan jalan tol di Sumatera.

Mekanisme penugasan akhirnya dipilih untuk melakukan percepatan pembangunan. Proyek ini sempat tak dilirik investor lantaran tak layak secara finansial meski pada ukuran keekonomian sangat besar manfaatnya.

HK sebagai satu-satunya BUMN konstruksi yang sahamnya dimiliki penuh oleh pemerintah pun diberi penugasan. Proyek tol Trans Sumatera akhirnya dikebut sejak 2015 dan dimasukkan ke dalam daftar prioritas proyek strategis nasional agar percepatan pembangunannya terjaga.

Mengutip data Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Minggu (21/3/2021), hingga saat ini, HK telah mengoperasikan secara penuh 513 km JTTS yang terdiri dari beberapa ruas. Di antaranya Tol Bakauheni-Terbanggi Besar (141 km), Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (189 km), Tol Palembang-Indralaya (22 km), Tol Medan-Binjai seksi 1A, 2 & 3 (15 km), Tol Pekanbaru-Dumai (132 km), dan Tol Sigli-Banda Aceh seksi 4 Indrapuri-Blang Bintang (14 km).

Dengan tambahan 643 km ruas tol yang sedang konstruksi saat ini, maka panjang JTTS yang sudah dibangun oleh HK telah mencapai sekitar 1.156 km. Angka yang sangat impresif untuk pembangunan dalam waktu 5 tahun terakhir.

Harapan Baru

Jalan tol bisa jadi barang mewah untuk warga Sumatera. Bagaimana tidak, waktu tempuh perjalanan yang telah akrab dilalui sangat lama, kini bisa dipangkas berbilang jam.

Baca Juga :  Bobby Nasution Perintahkan Perbaikan Parit

Jalan bebas hambatan pertama di Sumatera beroperasi di Medan pada tahun 1989. Tol sepanjang 33 km tersebut menghubungkan Medan dengan dua lokasi strategis Belawan dan Tanjung Morawa. Setelah itu, baru 26 tahun kemudian pembangunan Tol Trans Sumatera dilanjutkan kembali.

Tol Palembang-Indralaya menjadi yang pertama hadir di Bumi Melayu setelah lebih dari seperempat abad tak ada pembangunan. Tol ini juga jadi jalan bebas hambatan pertama di Sumatera Selatan.

Jalan tol Palembang-Indralaya, jalan tol pertama di Sumatera Selatan (Sumsel)Jalan tol Palembang-Indralaya, jalan tol pertama di Sumatera Selatan (Sumsel)

Setelah itu pengoperasian JTTS terus bergulir hingga menciptakan berbagai rekor. Di antaranya pengoperasian tol terpanjang di Indonesia untuk ruas Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (189 km), pengoperasian tol perdana di Provinsi Riau untuk ruas Pekanbaru-Dumai (132 km), hingga tol perdana di Provinsi Aceh untuk ruas Tol Sigli-Banda Aceh seksi 4 Indrapuri-Blang Bintang (14 km).

Hadirnya JTTS menjadi harapan baru bagi peningkatan ekonomi warga sekitar. Kehadirannya diharapkan mendorong tumbuhnya investasi yang akhirnya akan menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha baru bagi masyarakat. Tersambungnya JTTS juga diharapkan bisa menurunkan ongkos logistik yang akhirnya membuat harga barang-barang menjadi lebih murah.

“Kita harapkan dengan kesiapan-kesiapan infrastruktur seperti ini semuanya menjadi lebih cepat, pengiriman logistik, mobilitas orang, mobilitas barang menjadi lebih cepat,” kata Jokowi.

Hal tersebut diamini oleh Mauritz Pola, salah seorang warga Pekanbaru yang memiliki usaha kebun kelapa sawit di Riau. Waktu tempuh yang lebih singkat tentu akan membawa banyak peluang baru untuk melakukan aktivitas, termasuk dalam aspek ekonomi.

Warga Riau yang pada umumnya menggantungkan nasib pada perkebunan kelapa sawit berharap ada penurunan biaya operasi dengan terbangunnya tol Pekanbaru-Dumai.

“Harapannya bisa membuat harga angkutan barang terutama pupuk semakin murah karena risiko di jalan berkurang,” katanya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Selain itu, hadirnya tol yang dikelola oleh HK ini pun menjadi asa baru menjadi pendorong terciptanya sumber-sumber pertumbuhan ekonomi selain dari komoditas seperti kelapa sawit (crude palm oil/CPO), migas, dan karet.

Baca Juga :  Nama Dermaga Feri Balige diusulkan jadi Pelabuhan Muliaraja

Hal tersebut penting mengingat selama ini, ekonomi Riau ditopang oleh ekspor komoditas. Kondisi itu membuat sumber ekonominya rentan jika ada gejolak di luar negeri, seperti perlambatan ekonomi dunia yang langsung berdampak terhadap permintaan komoditas tradisional tadi.

Hadirnya JTTS juga akan ikut menaikkan nilai properti lingkungan. Efek berganda yang menambah laju ekonomi warga setempat akhirnya akan turut mengerek penerimaan pajak di Pulau Sumatera.

Optimistis Kejar Target

Tantangan pembangunan JTTS terasa saat memasuki masa pandemi, terutama pendanaan. Namun HK berhasil menjawab keterbatasan yang ada dengan berbagai macam opsi inovasi.

Salah satu inovasi yang dilakukan dengan membidik kontrak-kontrak strategis, termasuk beberapa Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) serta optimalisasi anak perusahaan.

“Kami menargetkan perolehan nilai kontrak baru sebesar Rp 20-21 Triliun di tahun ini. Kami juga mengestimasi pertumbuhan bisnis konstruksi Hutama Karya di tahun 2021 khususnya pada pengusahaan Jalan Tol Trans Sumatera,” kata Direktur Utama Hutama Karya Budi Harto.

HK juga tetap optimistis bisa menyelesaikan proyek JTTS dengan mencari pendanaan tambahan. Salah satunya melalui Obligasi Perusahaan yang dijamin oleh pemerintah dan skema pendanaan lainnya.

“Beberapa skema pendanaan Trans Sumatera yang saat ini tengah dilakukan antara lain melalui Penyertaan Modal Negara (PMN), Obligasi Perusahaan yang dijamin oleh Pemerintah, Pinjaman dari Lembaga Keuangan yang dijamin oleh Pemerintah, dan pendanaan lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” kata Executive Vice President (EVP) Divisi Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Muhammad Fauzan.

Tak hanya itu, perusahaan pelat merah yang berdiri sejak 1960 itu juga sudah mengusulkan beberapa poin kunci kepada pemegang saham obligasi (bondholders) dalam agenda RUPO (Rapat Umum Pemegang Obligasi), yakni penyesuaian perjanjian perwaliamanatan. Tujuannya agar sejalan dengan lajur bisnis perusahaan, di mana portofolio bisnisnya tengah bertransformasi dari mayoritas jasa konstruksi menuju perusahaan konstruksi dan investasi. Hasilnya, Hutama Karya berhasil mencapai kuorum.

Baca Juga :  PGN Dukung Percepatan Masterplan Infrastruktur Gas Bumi Nasional

“Kami berterima kasih kepada para pemegang obligasi, yang masih memberikan kepercayaan kepada Hutama Karya khususnya dalam menjalankan penugasan JTTS. Meski kerapkali dihadapkan dengan tantangan, baik di lapangan atau dari segi pendanaan dalam membangun mega proyek ini, namun perusahaan optimis mampu menyelesaikan proyek yang juga masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional (PSN),” kata Fauzan.

Proyel Tol Pekanbaru-Dumai dilengkapi terowongan untuk gajah. Proyek tol ini segera rampungProyel Tol Pekanbaru-Dumai dilengkapi terowongan untuk gajah. Proyek tol ini segera rampung Foto: Dok. PT Hutama Karya

Di tahun ini, Hutama Karya menargetkan penyelesaian konstruksi pada beberapa ruas JTTS lainnya. Di antaranya Tol Bengkulu-Taba Penanjung 18 km, Tol Sigli-Banda Aceh seksi 2 Seulimun-Jantho 6 km, seksi 5 Blang Bintang-Kuto Baro 8 km, seksi 6 Kuto Baro-Baitussalam 5 km, serta Tol Pekanbaru-Bangkinang 40 km.

Mengutip data BPJT per 15 Februari 2021, berikut sisa ruas JTTS garapan HK dalam masa konstruksi yang ditarget rampung secara bertahap hingga 2024:

  1. Medan-Binjai (seksi 1B, 1C, 1D) 2 km
  2. Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat 135,45 km
  3. Sigli-Banda Aceh (seksi 1-3 dan seksi 5-6) 60,5 km
  4. Indrapura-Kisaran 47,55 km
  5. Pekanbaru Padang (segmen Padang-Sicincin) 36 km
  6. Pekanbaru-Padang (segmen Pekanbaru-Bangkalan) 100 km
  7. Simpang Indralaya-Muara Enim 119 km
  8. Lubuk Linggau-Curup-Bengkulu 95,8 km
  9. Binjai-Langsa 130,9 km (BOB/Detikfinance)

 

Komentar Anda

Ekonomi