Pria Muslim Ini Adopsi Puluhan Anak yang Menderita Penyakit Mematikan

Pria Muslim Ini Adopsi Puluhan Anak yang Menderita Penyakit Mematikan

Oxomedia – Adalah Mohammed Bzeek, seorang pria muslim asal Libya yang bermigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1978 untuk belajar teknik elektro. Melalui seorang teman, Bzeek dikenalkan dengan seorang perempuan bernama Dwan yang kemudian menjadi isterinya. Dawn adalah orang yang sangat penuh kasih, sejak awal tahun 1980-an, sebelum bertemu dengan Mohammed Bzeek, Dwan membuka rumahnya sebagi tempat penampungan daruat bagi anak-anak yang butuh perawatan, perlindungan dan tempat tinggal.

Setelah mereka menikah, pasangan itu membuka rumah mereka di Azusa untuk puluhan anak-anak seperti itu.

Mereka mengelola kelas-kelas tentang menjadi ibu dan ayah titipan dan cara menangani penyakit dan kematian anak-anak. Dawn sendiri terinspirasi dari kisah hidup kakek dan neneknya yang juga merupakan orang tua angkat dari banyak anak-anak terlantar.

Pada pertengahan tahun 1990-an, pasangan tersebut memutuskan untuk hanya menjaga anak-anak yang menderita penyakit mematikan, keluarga Bzeek memutuskan untuk secara khusus merawat anak-anak telantar dengan sakit parah yang mendapat status ‘do not resuscitate’, kode medis yang biasanya diberikan untuk membiarkan pasien kritis agar meninggal secara alamiah. Karena tidak ada orang yang sudi menjaga mereka.

Bzeek yang resmi menjadi warga negara Amerika Serikat sejak tahun 1997 itu dikarunia seorang anak lelaki di tahun yang sama. Anak lelaki yang diberi nama Adam itu menderita kelainan bawaan yaitu penyakit tulang rapuh dan kekerdilan.

Namun pada tahun 2000, Dawn jatuh sakit dan mengalami kejang parah sampai menjadi lemah selama berhari-hari.

Akibat tertekan dengan penyakitnya itu, ia mempengaruhi pernikahan pasangan itu sampai mereka berpisah pada 2013. Dawn meninggal kurang setahun kemudian. Setelah kematian Dawn, Bzeek memutuskan untuk melanjutkan amal istrinya itu sampai sekarang.

Setelah Dawn meninggal, Bzeek dibantu seorang perawat untuk merawat putranya yang berusia 19 tahun dan seorang anak perempuan berusia 6 tahun yang menderita penyakit microsefalus, sebuah kondisi langka di mana kepala bayi berukuran lebih kecil dari ukuran kepala bayi normal. Mikrosefalus juga ditandai dengan ukuran otak yang menyusut serta tidak berkembang dengan sempurna. Penyakit ini membuat anak penderitanya mengalami kelumpuhan,tuna netra dan juga tuna rungu.

“Aku tahu bahwa dia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tapi aku selalu berbicara kepadanya, karena dia adalah makhluk hidup yang punya perasaan dan jiwa” Ujar Bzeek.

Bzeek pertama kali mengalami kematian seorang anak asuh pada tahun 1991. Anak tersebut, yang berjenis kelamin perempuan dan lahir dengan kelainan tulang belakang, meninggal pada tanggal 4 Juli 1991, saat usianya belum genap satu tahun.

Ditanya tentang anaknya sendiri, Adam, yang mengalami penyakit tulang rapuh dan kekerdilan, Bzeek mengatakan ia tidak pernah merasa marah atas apa yang dialami anaknya itu.

Adam kini seberat 29,4 kg (65 pon), belajar ilmu komputer di Citrus College, merupakan siswa paling kecil di kelasnya dan menggunakan kursi roda listrik ke kelas.

“Tuhan sudah ciptakan beliau seperti itu,” kata Bzeek

Bzeek sendiri didiagnosis menderita kanker usus besar stadium 2 sejak tiga tahun lalu. Mengenai penyakitnya, Bzeek berkata bahwa hal tersebut semakin menyadarkan dirinya atas ketakutan yang dihadapi anak telantar.

“Saya tidak punya keluarga,dan saya takut. Saya merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan anak-anak. Mereka sendirian,” kata Bzeek. “Jika saya berusia 62 (sekarang 65) dan saya takut, bagaimana dengan mereka?” Sambung Bzeek.

Baru-baru ini Channel Nas Daily menampilkan profil Mohammed Bzeek, di dalam video tersebut dikatakan bahwa Bzeek mengadopsi telah 80 anak, dan tentu saja anak-anak tersebut adalah anak-anak yang tidak diinginkan orang, sebab mereka mengidap penyakit yang parah dan membuat mereka tidak bisa hidup secara normal.

“Saya tahu mereka ini sakit. Saya tahu mereka akan mati. Yang penting, Anda harus menyayangi mereka seperti anak Anda sendiri.  Saya lakukan yang terbaik sebagai seorang manusia dan serahkan yang lain kepada Tuhan, “kata Bzeek, ​​kepada Los Angeles Times.

Tapi dibalik berbagai kesulitan yang dihadapinya itu, Bzeek mengaku tidak pernah merasa menyesal, bahkan ia sangat menikmati perjalanan hidupnya tersebut. Selain itu, menurut Bzeek apa yang dia lakukan berpengaruh pada cara pandang masyarakat Amerika terhadap Muslim. Ia mengatakan, Muslim di AS umumnya dipandang seperti penjahat dan pembunuh. Muslim di Amerika, kata dia, dipandang tidak baik dan Islam dipandang hanyalah agama kekerasan dan kehancuran.

“Kisah saya mengubah cara orang Amerika berpikir tentang Muslim. Tapi setelah (mendengar) cerita saya, saya menunjukkan kepada mereka Islam yang sebenarnya. Islam adalah tentang cinta, kasih sayang, dan simpati terhadap orang lain,” kata Bzeek kepada Anadolu Agency. (tam)

Komentar Anda

Sosok