TOP 10 World Muslimah Ini Ajak Pemuda Peduli Kesehatan Anak Dari Bahaya Rokok

TOP 10 World Muslimah Ini Ajak Pemuda Peduli Kesehatan Anak Dari Bahaya Rokok

Oxomedia, Medan – Bicara tentang bahaya rokok bagi sebagian orang mungkin tidak begitu populer. Tingginya angka perokok di Indonesia, dimana usia produktif termasuk di dalamnya tentu menjadikan kampanye anti rokok di ruang publik bukan perkara mudah.

Tapi bagi Anggi Maisarah, 29 tahun, hal itu merupakan tantangan tersendiri. Baginya pemuda harus ambil bagian dalam melawan bahaya asap rokok.

Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia itu kini ikut andil dalam program yayasan Pusaka Indonesia dalam pengendalian tembakau.

Bagi Anggi, yang pernah masuk sebagai Finalis Top 10 World Muslimah itu, pengendalian dampak rokok adalah bagian dari memperjuangkan hak dasar anak-anak Indonesia, yakni hak untuk untuk mendapatkan kesehatan yang layak dan tumbuh kembang yang baik.

Menurut Wakil Sekretaris DPD KNPI Sumut ini, pemerintah telah gagal mengendalikan dampak rokok sehingga gagal juga menyelamat generasi di masa mendatang.

“Kita bisa lihat perokok di Indonesia yang bebas merokok di mana saja. Padahal kita punya perda KTR yang seharusnya tempat-tempat kawasan tanpa rokok, tidak boleh ada orang yang merokok, tidak boleh menjual rokok, tidak boleh ada iklan rokok, bahkan asbak rokok juga tidak boleh ada,” ujar Anggi yang pernah menerima beasiswa Goodwill Internasional dari Australia and Newzeland Assosiation (ANZA)

Anggi membandingkannya dengan negara maju tempat asal rokok dipopulerkan pertama kali, justru kontrol terhadap tobacco begitu ketatnya. Kita akan kesulitan melihat orang merokok di ruang publik.

“Indonesia surganya para perokok, itu yang sangat mengecewakan kita. Kita punya aturan tetapi aturan tidak ditegakkan. Yang lebih memprihatinkan, pejabat kita justru melanggar Perda. Miris kan?,” ujar Anggi

Dari Ibukota Jakarta, Anggi kembali ke Medan untuk dapat berbuat bagi kampung halamannya. Saat ini Anggi aktif menggerakkan semangat anak muda untuk ikut peduli memperoleh hak anak. Bersama Yayasan Pusaka Indonesia dirinya membentuk Sahabat Pantau Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Baca Juga :  Diskusi HTTS: Pejabat Pemerintah Jangan Merokok Di Ruang Publik.

Ia mengajak anak muda untuk menggunakan Aplikasi Pantau KTR. Aplikasi ini adalah perangkat di android untuk melaporkan orang yang merokok di kawasan tanpa rokok. Untuk mendaftar, bisa langsung download aplikasi melalui playstore di android.

“Ini upaya kita untuk mengendalikan dampak rokok. Melarang orang merokok di KTR yang ada kita berantem, dimusuhi, dibilang sok, belagu dan lainnya. Melalui aplikasi pantau KTR, laporan tadi akan ditindak oleh dinas terkait, dan pengelola KTR yang akan dikenakan sanksi,” ujar Anggi menjelaskan aplikasi.

Saat ini jumlah sahabat pantau KTR yang mendownload aplikasi ‘Pantau KTR’ sudah sekitar 600 sahabat. Sahabat Pantau KTR tersebar di seluruh Indonesia dan 3 daerah Medan, Solo dan Sawahlunto menjadi daerah percontohan.

“Jadi 3 daerah ini nanti akan kita lihat implementasi penegakan kawasan tanpa rokok,” terang Anggi.

Bagi Anggi, jika anak muda yang bergerak maka perubahan di depan mata. Menurutnya, saatnya pemerintah konsisten memberikan yang terbaik bagi anak Indonesia, yakni kesehatan yang berkualitas.

Komentar Anda

Peristiwa Redaksi