Indonesia: PDB melesat pada triwulan kedua 2021

Indonesia: PDB melesat pada triwulan kedua 2021

  • Indonesia tumbuh sebesar 7,1% secara tahunan (y/y) pada triwulan kedua 2021 setelah kontraksi selama empat triwulan berturut-turut
  • Jumlah penularan virus rendah, perayaan, dan basis pertumbuhan (base effect) memungkinkan permintaan domestik menopang pertumbuhan, diiringi ekspor kuat
  • Prospek semester kedua akan ditentukan oleh rentang waktu dan intensitas gelombang Covid saat ini
  • Sementara pertumbuhan triwulan ketiga mungkin melemah sebagai akibat logis pembatasan sosial, jumlah kasus terkendali memungkinkan lonjakan pada triwulan keempat
  • Implikasi untuk perkiraan: Kami mempertahankan perkiraan pertumbuhan setahun penuh kami
  • Implikasi untuk pasar: Rupiah dan imbal hasil obligasi melemah akibat pelonggaran tekanan AS
  • PDB tumbuh pesat pada triwulan kedua 2021 karena basis pertumbuhan (base effects) dan jumlah kasus Covid menurun

Oxomedia, Jakarta- Indonesia mencatat pertumbuhan kuat sebesar 7,1% y/y pada triwulan kedua 2021 dibandingkan dengan -0,7% pada triwulan pertama dan setelah penurunan selama empat triwulan. Ini membawa pertumbuhan paruh pertama ke angka 3,2% y/y. Penurunan jumlah kasus Covid, pelonggaran pembatasan pergerakan, dan base effects (triwulan kedua -5,3% y/y) membantu menyangga tingkat pertumbuhan PDB.

Di antara faktor pendorong, segmen konsumsi tumbuh 6,2% y/y. Pertumbuhan pembentukan modal tetap kuat, di angka 7,5%. Kedua komponen ini menyumbang lebih dari 80% pada pertumbuhan secara keseluruhan (lihat grafik di bawah). Meskipun ada penurunan dalam persediaan, ekspor bersih terus menyumbang pada PDB headline.

Dalam hal konsumsi, ada peningkatan belanja pemerintah dan rumah tangga, dengan ditopang oleh basis pertumbuhan (base effects) yang rendah. Setelah meneliti lebih jauh lagi, perhitungan kami menunjukkan pengeluaran untuk hal-hal esensial dan non-esensial lebih tinggi pada triwulan tersebut. Dalam hal investasi, ada peningkatan luas di antara sub-segmen: mesin & peralatan, kendaraan, bangunan, struktur, dan peralatan lain. Kenaikan harga komoditas turut menopang kinerja sektor eksternal.

Baca Juga :  Petugas Menghentikan Kendaraan Berplat Luar Daerah

Hambatan pada masa depan

Prospek ekonomi hingga akhir tahun 2021 sangat tergantung pada evolusi pandemi dan efektivitas (dan skala) dukungan yang diberikan oleh pihak berwenang.

Sejak akhir Juni, Indonesia mengalami peningkatan tajam dalam kasus penularan (baca  Indonesia/Thailand: Bumpy road to recovery dan Indonesia: In pandemic firefighting mode). Jumlah kasus harian telah mencapai puncaknya, di angka sekitar 50 ribu pada pertengahan Juli, dan berada di sekitar angka 35 ribu pada minggu ini. Sementara Pulau Jawa menyumbang lebih dari dua pertiga dari total jumlah kasus harian hingga pertengahan Juli, jumlah ini sekarang menjadi sekitar 45% dari jumlah total, menunjukkan bahwa daerah di luar Jawa mengalami peningkatan jumlah dalam dua minggu terakhir. Bersamaan dengan itu, jumlah kematian absolut telah surut, meski tetap tinggi apabila dilihat dari tingkat sejarah.

Dengan pemberlakuan dan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada bulan ini oleh pemerintah, momentum pertumbuhan triwulan ketiga kemungkinan akan mengalami pelemahan akibat konsumsi melambat, sementara dukungan pemerintah dan ekspor kemungkinan bernasib lebih baik. Pengetatan PPKM Level 4 tetap berlaku di Jawa, yang secara ekonomi penting, menuntut sebagian besar pekerja non-esensial untuk bekerja dari rumah sepenuhnya, kecuali hal-hal penting tertentu (berbelanja bahan makanan, pergi ke apotek), mal dan tempat hiburan ditutup. Data frekuensi tinggi di awal, termasuk indikator mobilitas dan PMI manufaktur, memberikan indikasi dampak buruk dari pembatasan pergerakan lebih ketat. Sementara itu, vaksinasi sedang berlangsung, dengan dosis harian rata-rata yang diberikan meningkat dari 500 ribu pada Juni menjadi lebih dari 800 ribu pada Juli, dengan 1 juta dosis diberikan selama beberapa hari. Sekitar 18% dari penduduk telah menerima setidaknya satu dosis. Karena pasokan vaksin (Moderna, Pfizer, dll.) tersedia lebih banyak, kecepatan vaksinasi kemungkinan akan mencapai tingkat yang ditargetkan, 2 juta dosis/hari.

Baca Juga :  Edy Rahmayadi : PPKM Darurat, Jangan Tinggalkan Sholat. Ini Respon Warganet

Model GDP Nowcasting kami, yang terkini, menunjukkan perlambatan pada triwulan ketiga 2021 sebelum menjadi stabil pada triwulan keempat, selama beban kasus Covid dikendalikan dan pendistribusian vaksin tetap berlangsung cepat. Kami mempertahankan perkiraan pertumbuhan setahun penuh kami di angka 3,5% untuk 2021, sebelum kemungkinan meningkat menjadi 4,5% pada tahun depan.

Tuas kebijakan dalam posisi akomodatif

Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada 3,5% untuk sisa tahun ini sementara memberikan sinyal bias pro-pertumbuhan melalui langkah-langkah untuk memacu pinjaman, langkah-langkah makroprudensial, dan memastikan pasar keuangan stabil (rupiah dan obligasi). Kebijakan fiskal kemungkinan akan melakukan lebih tugas berat pada tahun ini, dengan alokasi di bawah program pemulihan ekonomi nasional telah meningkat menjadi Rp774,7 triliun, naik 29% dibandingkan dengan alokasi 2020. Indikasinya adalah anggaran kesehatan mungkin dinaikkan menjadi Rp300 triliun vs Rp215 triliun pada saat ini, yang mungkin mendorong pengeluaran stimulus secara keseluruhan. Pada paruh pertama tahun ini, defisit tetap terkendali dengan baik di -1,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB), namun prioritasisasi ulang pengeluaran mungkin diperlukan jika dukungan fiskal ditingkatkan untuk mempertahankan risiko penurunan terhadap pertumbuhan.

Dalam jangka panjang, kemampuan untuk menahan tingkat utang publik, memperkenalkan langkah-langkah peningkatan pendapatan, dan membalikkan kenaikan bagian pembayaran versus pendapatan keseluruhan akan diperlukan untuk memperbaiki keuangan publik secara material.

Di pasar, imbal hasil rupiah dan obligasi keluar dari titik terendahnya, mengambil jeda seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun serta dolar AS, yang turun dari harga tertingginya. Di dalam negeri, lelang obligasi rupiah baru-baru ini telah menarik minat kuat, didorong oleh tanda-tanda bahwa pemerintah akan mengurangi penerbitan utang bersih 2021 dengan memanfaatkan saldo kas yang tidak terpakai, selain menahan inflasi dan kekhawatiran fiskal. (BOB/REL)

Baca Juga :  Syuting Ikatan Cinta Picu Kerumunan, Satgas Covid-19 Turun Tangan

Komentar Anda

Ekonomi