Kembalinya Orangutan Sumatera pada Hari Orangutan Internasional tahun 2021

Kembalinya Orangutan Sumatera pada Hari Orangutan Internasional tahun 2021

Oxomedia, Medan, –  Satwa liar mendiami habitat yang tersebar di hutan, beberapa jenis satwa liar merupakan jenis Endemik yakni satwa yang terbatas penyebarannya atau hanya dapat ditemui pada habitat atau lokasi tertentu. Seperti halnya Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera khususnya bagian utara.

Bertepatan dengan Hari Orangutan Internasional yang diperingati pada tanggal 19Agustus 2021, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Besar KSDA Sumatera Utara di Bandara Kuala Namu Deli Serdang telah menerima pemulangan 9 individu satwa liar terdiri dari 1 individu Orangutan Sumatera hasil penegakan hukum yang telah memiliki kekuatan hukum tetap berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri Cikarang Nomor: 234/Pid/LH/2021/Pn.Ckr dan 8 individu Beo Medan berasal dari penyerahan masyarakat, yang sebelumnya ditampung dan dirawat di Pusat Penyelamatan Satwa Tegal Alur (PPSTA) yangdikelola Balai KSDA DKI Jakarta.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang dikirim dari Tegal Alur Jakarta berjenis kelamin Jantan, umur ± 2 tahun, kondisi sehat. Orangutan Sumatera (Pongo abelii)dan Tiong Emas/Beo (Gracula religiosa) adalah satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi.

Di Sumatera Utara, Orangutan Sumatera akan menjalani rehabilitasi di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan Sumatera di Batu Mbelin Sibolangit yang dikelola oleh mitra Balai Besar KSDA Sumatera Utara yakni Yayasan Ekosistem Lestari, sedangkan Burung Tiong Emas/Beo akan direhabilitasi di PPS Sibolangit yang dikelola Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Tiba di lokasi rehabilitasi, satwa akan menjalani proses pemeriksaan dan pemulihan kesehatan serta rehabiltasi.

Nantinya satwa-satwa ini akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya setelah menjalani proses rehabilitasi dan layak untuk dilepasliarkan. Harapannya setelah lepas liar satwa-satwa tersebut mampu berkembang biak di habitatnya.

Baca Juga :  Berkurangnya Area Hutan 'picu' Banjir terbesar di Kalimantan Selatan

Dalam masa pandemi Covid-19 saat ini, hewan bisa  saja tertular virus. Untuk itu kegiatan pemulangan satwa dilindungi ini telah menerapkan protokol kesehatan, dimana satwa telah menjalani test swab dan personil yang terlibat dalam kegiatan telah memperoleh vaksin serta menggunakan masker/face shield. Khusus untuk dua satwa Orangutan adalah satwa dengan DNA 97% yang mirip dengan manusia sehingga penerapan protokol kesehatan menjadi sangat penting agar satwa tidak tertular virus dan sebalikanya.

Dalam siaran pers yang diterima oleh Oxomedia, Plt. Kepala Balai Besar Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kepala Balai KSDA Jakarta yang telah melakukan translokasi serta pihak-pihak lainnya yang turut mendukung pelaksanaan translokasi ini, termasuk juga rekan-rekan jurnalis baik dari media cetak, elektonik maupun media on-line. Semoga kerjasama yang baik ini dapat terus ditingkatkan diwaktu-waktu yang akan datang.  (BOB/REL)

Komentar Anda

Lingkungan