Ribuan Anak Indonesia Jadi Yatim Piatu Saat Pandemi

Ribuan Anak Indonesia Jadi Yatim Piatu Saat Pandemi

Oxomedia, Medan – Saat orang tua Amalia Ulfa meninggal karena COVID, dia merasa hidupnya seperti hampa.

“Saya merasa hidup saya hancur berkeping-keping,” katanya kepada ABC Indonesia.
Ayahnya, Karwita, meninggal di rumah tanggal 10 Juli, tujuh hari setelah dinyatakan positif mengidap COVID.
Dua hari kemudian, ibunya, Yulis Sukaryati yang dirawat di rumah sakit karena COVID juga meninggal.

“Saya dekat sekali sama mama, kemanapun pergi saya selalu menemaninya,” kata Amalia lagi.

Amalia sekarang bersia 24 tahun, dan tinggal bersama adiknya yang baru berusia empat tahun, Raffa Abdul Maulana di Kampung Samaran, Garut, Jawa Barat.

Sejak kedua orang tuanya meninggal, Amalia tidak bisa meninggalkan rumah karena dia harus mengasuh adiknya Raffa yang tidak mau ditinggal, sementara kakak Amalia lainnya sudah menikah.

Saat ini Amalia mengandalkan pendapatan dari usaha kecil keluarganya yaitu menjual tabung gas untuk memasak.

Sebelumnya, lulusan D3 bahasa Inggris ini pernah kerja selama beberapa bulan di pabrik dan sebulan sebelum orang tuanya meninggal ia bekerja di sebuah hotel di Garut.

“Penghasilan dari jualan tabung gas ini tidak akan cukup untuk hidup sehari-hari,” katanya.

Kementerian Sosial Indonesia sejauh ini memperkirakan adanya 11.045 anak yang kehilangan satu atau kedua orang tua semasa pandemi sampai sekarang.
Perkiraan itu dari data yang dikumpulkan sampai akhir Juli, dengan melihat jumlah kematian di kalangan warga Indonesia yang berusia antara 19 sampai 45 tahun.

“Kalau misalkan rata-rata satu keluarga itu meninggalkan satu anak maka estimasinya seperti itu,” kata Kanya Eka Santi, Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos.
Kanya mengatakan jumlah anak yang kehilangan orang tua terbanyak adalah di Jawa Timur, yakni 792 orang disusul Yogyakarta dan Jawa Barat, dengan masing-masing sekitar 500 anak-anak.
“Di tempat-tempat lain itu masih dalam proses pengumpulan yang saya kira kalau kita mempertimbangkan 34 provinsi, maka angka itu bisa cukup tinggi.”

Namun beberapa LSM independen, seperti Kawal COVID-19 dan Warga Bantu Warga memperkirakan angkanya melebihi 50 ribu orang, yang nantinya bisa menjadi korban karena meninggalnya orang tua mereka.

Erinda Pratiwi kehilangan ibunya karena COVID di Bantul, Yogyakarta beberapa bulan lalu setelah ayahnya juga meninggal 3 tahun sebelumnya.

Setelah kehilangan ibunya, Erinda tinggal bersama kakaknya, tapi dalam dua bulan terakhir Erinda belajar di Pondon Pesantren Ngrukem di Bantul.
Di Pondok Pesantren komunikasi dengan keluarga memang dibatasi, namun Erinda sekarang betah di sana karena ada banyak teman-teman sebaya dengannya.

“Waktu di rumah saya kadang sedih melihat dia sebagai adik saya, walau saya juga memiliki anak-anak yang tidak beda jauh usianya dengan Erinda,” kata Ari, kakak Erinda kepada ABC Indonesia.
“Pengetahuan agama kami tidak cukup. Kami juga khawatir Erinda karena tidak memiliki orang tua lagi. Sejauh ini dia kerasan di pondok pesantren,” kata Ari mengenai alasan mengirimkan Erinda ke pondok pesantren.
Menurut Camat Banguntapan, Drs Fauzan Mu’arifin, di mana Erinda tinggal, sejauh ini ada 146 anak di Kecamatannya yang kehilangan orang tua mereka karena COVID.

Fauzan mengatakan mereka sedang berusaha melakukan pendataan untuk mencarikan bantuan, karena khawatir dengan masa depan anak-anak yang kehilangan orangtuanya.

“Anak-anak ini berpotensi putus sekolah, terlantar dan juga memicu pelaku kriminal,” katanya kepada ABC.(rel/rpblk)

 

Komentar Anda

Humaniora