Sudirman 41, Eksklusif Sejak Zaman Kolonial, Terbuka di Era Edy

Sudirman 41, Eksklusif Sejak Zaman Kolonial, Terbuka di Era Edy

Oxomedia, Medan– Bangunan bergaya klasik eropa dengan dominasi warna putih yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman No. 41 Medan ternyata menyimpan banyak cerita. Mulai digunakan sejak 15 Februari 1939, bangunan yang menjadi saksi perjalanan sejarah dan perpindahan kekuasaan itu, kini merupakan kediaman resmi Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi.

Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, bangunan itu diperuntukan sebagai rumah bagi Gouvernement van Sumatra yang berkedudukan di Medan. Pada era Republik Indonesia masih berbentuk serikat, pernah pula menjadi kediaman dr. Tengku Mansoer selaku Wali Negara Sumatra Timur.

Sebagai Rumah Jabatan Gubernur Sumatera Utara, perpindahan kepemimpinan telah membawa banyak kisah pada rumah ini. Pasca bubarnya Negara Sumatra Timur yang melebur dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Agustus 1950, Abdul Hakim Harahap merupakan Gubernur Sumut pertama yang menempati Rumah Jabatan itu. Dari Abdul Hakim hingga Gatot Pujo Nugroho, tak banyak perubahan pada rumah itu hingga masa Gubernur Sumut T. Ery Nuradi berinisiatif membangun sebuah Aula persis di sebelah rumah induknya dengan menabalkan nama Gubernur Sumut ke 14 Tengku Rizal Nurdin.

Tiap Gubernur punya cara dan cerita pada rumah ini, tapi satu yang selalu sama yaitu kesan ekslusif rumah pejabat yang membuat jarak antara pemimpin dengan rakyatnya yang dipimpinnya. Barulah pada masa kepemimpinan Gubernur Edy Rahmayadi, rumah ini memiliki kesan ‘ramah’ bagi masyarakat umum.

Rumah Jabatan Gubernur Sumut itu mulai terbuka bagi masyarakat sejak Gubsu Edy Rahmayadi membangun sebuah masjid di areal rumah. Mulai dibangun pada Juni 2019 dan digunakan pada Januari 2020, masjid di rumah jabatan gubernur sumut bebas dikunjungi dan digunakan masyarakat luas khususnya muslim untuk beribadah sholat lima waktu.

Baca Juga :  Sekretaris MWA USU : Pelantikan Muryanto Amin Tunggu Persetujuan Kemendikbud

“Kita namakan Masjid Gubernur Sumut saja, biar adil, Gubsu tidak selamanya Edy Rahmayadi, siapapun bisa jadi Gubsu,” ucap Edy Rahmayadi saat peresmian masjid.

Di Masjid Gubernur Sumut juga rutin diadakan pengajian dan boleh dipakai masyarakat untuk Majelis Taklim. Dari jemaah masjid ini, terkumpul dana Rp 500 juta untuk membeli satu unit ambulans bagi rakyat di Palestina.

Edy Rahmayadi memang dikenal lebih terbuka menerima masyarakat di rumah jabatannya, Sehabis subuh, Gubsu Edy kerap menerima kunjungan masyarakat di Masjid Gubsu.

Di era Edy Rahmayadi pula, Sudirman 41 selalu terlihat ramai aktifitas. Tidak hanya jemaah sholat yang mengisi masjid, beragam kegiatan masyarakat pun pernah digelar di sana. Mulai dari kegiatan organisasi masyarakat, sosial, keagamaan, pendidikan, seni hingga terakhir Gubsu Edy menggelar acara untuk menghibur dan mewadahi anak-anak penyandang disabilitas di areal rumah. Hal yang tak pernah kita jumpai pada gubernur-gubernur sebelumnya.

Sudah betul, jika Gubsu menyebutnya “Istana Sumatera Utara”. Karena memang milik Rakyat Sumatera Utara.

(TIM)

Komentar Anda

Editors Pick Humaniora Sumut