Gus Hayid: Mari Kita Belajar Toleransi Untuk Dunia yang Lebih Damai

Gus Hayid: Mari Kita Belajar Toleransi Untuk Dunia yang Lebih Damai

Oxomedia, Jakarta  – Ada sekitar 17.000 pulau di Indonesia, 300 etnis dan suku, dan 6 agama besar di Indonesia. Jumlah ini belum termasuk angka penghayat lokal di berbagai wilayah. Di tengah keberagaman ini, toleransi dibutuhkan untuk menunjang keberlangsungan dan keharmonisan bersama. Toleransi di Indonesia sering pasang surut. Situasi optimistik dan situasi pesimistik kadang muncul berdampingan.

Namun, di tengah keberagaman dan tantangan itu, salah satu pihak yang punya tanggung jawab besar bagi keberlangsungan toleransi adalah umat Muslim. Tidak lain karena jumlahnya yang mayoritas sehingga banyak mengisi posisi sosial strategis.

Dalam siaran langsung di Instagram (21/01/2022), INFID mengundang Gus Hayid, Pengasuh Pondok Pesantren Skill, untuk menceritakan situasi dan kondisi toleransi di Indonesia. Bincang malam bersama Gus Hayid merupakan salah satu rangkaian diskusi mini sebelum perhelatan inti seminar internasional tentang Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di tanggal 25-27 Januari 2022, yang mengundang pembicara dari Indonesia, Malaysia, Pakistan dan Tunisia.

Menurut Pengasuh Pondok yang juga sekaligus Awardee 1000 Abrahamic Circle ini, situasi toleransi beragama di Indonesia memiliki wajah berbeda dengan situasi di tempat lain.

“Sewaktu saya mengikuti program 1000 Abrahamic Circle di Melbourne, Australia, saya dipertemukan dengan Pastor dan Rabbi. Kami saling bertukar cerita, dan saling berkunjung ke basis religi di masing-masing negara. Kawan saya yang Pastur ini cerita, kalau muslim yang ia kenal adalah muslim di Sri Lanka, yang saat mereka menyelenggarakan Misa, pernah dibom. Rabbi Yahudi kurang lebih juga punya persepsi serupa: muslim yang ia kenal adalah Islamophobia ala Barat.” Tutur Gus Hayid dalam siaran pers yang diterima oleh Redaksi Oxomedia.

Baca Juga :  UISU-UIR Tandatangani Nota Kesepahaman

“Saya ajaklah mereka ke pondok pesantren di Jogja. Saya kenalkan mereka ke santri-santri, dan kami sambut mereka sebagai tamu―sebagaimana Rasulullah dulu menyambut tamu dari agama lain. Dan mereka terkejut ‘Lho kok ada ya Islam yang seperti ini?’.” Pungkas Gus Hayid

Gus Hayid melihat bahwa, manusia pada dasarnya tidak bisa lepas dari kehidupan yang berdampingan. Di Islam, prinsip dasar hidup berdampingan termaktub dalam Surat Al Hujurat ayat 13: “Hai Manusia, sesungguhnya kami ciptakan engkau dari seorang laki-laki dan perempuan, serta menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.”

Ia menegaskan, upaya-upaya dialog lintas agama, ataupun dialog lintas budaya adalah elemen penting dalam merawat ‘kesalingan’ dan kebersamaan, agar masing-masing pihak saling memahami, dan pada gilirannya akan tercipta kelenturan antara pandangan religious, budaya dan hubungan sosial.

Menurut Gus Hayid, “prinsip utama Islam dalam kehidupan antar agama adalah lakum diinukum waliyadiin, atau ‘bagimu agamamu, bagiku agamaku.’ Tetapi, maknanya bukan berarti apatis, melainkan ‘tidak ada paksaan’, sebagaimana yang ditegaskan oleh salah satu ayat Al-Qur’an: la ikroha fiddiin, ‘tidak ada paksaan dalam beragama.’ Artinya, kita tidak boleh memaksakan kepercayaan kita pada orang lain. Oleh karena itu, bagi Gus Hayid, toleransi adalah tentang menghormati orang lain, bukan ikut campur.

“Memang ada sebagian teman-teman kita yang punya komitmen formalisasi ajaran islam di Indonesia. Posisi mereka tegas: menolak kelenturan dalam kehidupan bersama. Namun mereka perlu dirangkul dan diceritakan soal kondisi Islam di Indonesia.” Sambung Gus Hayid.

Akan tetapi, beliau juga mengingatkan, toleransi tidak terbatas pada hubungan antar keyakinan atau budaya, melainkan juga mencakup toleransi antar kelas ekonomi dan kekuasaan. Menjunjung toleransi ekonomi bisa melalui pengentasan ketimpangan, gemar berbagi, dan empati pada orang lain. Toleransi kekuasaan ditegakkan dengan bersikap adil pada siapapun yang bersalah tanpa tebang pilih posisi jabatan dan status sosial.

Baca Juga :  Gubsu Resmikan Renovasi 91 Sekolah se-Kepulauan Nias

Namun bagi Gus Hayid, yang terpenting dari itu semua adalah, “mari kita bersama-sama belajar mempraktikkan toleransi di berbagai aspek kehidupan, agar dunia menjadi lebih damai dan rukun.” (BOB/REL)

Komentar Anda

Polhukam