Kuliner River Walk Krueng Aceh, Apa Kabarnya?

Kuliner River Walk Krueng Aceh, Apa Kabarnya?

Jalur pejalan kaki di bantaran sungai, yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu pun terlihat kotor. Lantainya basah, ada juga yang sudah berlubang. Bangunannya bagai terlantar”

Oxomedia, Banda Aceh – Lokasi Kuliner River Walk terdapat di bantaran Krueng (sungai) Aceh di Peunayong, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Fasilitas wisata yang sudah berusia hampir dua tahun ini sebenarnya didesain sebagai lokasi wisata kuliner andalan kota “Serambi Mekah.”

Di lokasi kuliner ini, pengunjung semestinya bisa menikmati hidangan khas provinsi bersyariat Islam, sambil memandang air sungai atau krueng yang mengalir menuju lautan. Mungkin itu ide awal mengapa bantaran Krueng Aceh ini ditata begitu mewah hingga menghabiskan anggaran yang tidak sedikit.

Baru-baru ini jurnalis Waspadaaceh.com, menyusuri bantaran Krueng Aceh, untuk melihat kondisi fasilitas yang ada di lokasi tersebut. Begitu memasuki lokasi, jurnalis disuguhkan dengan pemandangan cukup mengganggu pandangan mata.

Apa itu? Ketika baru berjalan kaki beberapa meter, sudah terlihat sampah plastik berserakan. Jalur pejalan kaki di bantaran sungai, yang terbuat dari kayu berkualitas tinggi itu pun terlihat kotor atau jorok. Lantainya basah, dan ada juga yang sudah berlubang.

Terpampang pamplet imbauan mengatasnamakan dari masyarakat/pemuda Peunayong, tentang larangan merusak taman kota dengan narkoba, sabu, ganja, miras, serta perbuatan maksiat di kawasan tersebut. Tak jelas, apakah para pengunjung mematuhi imbauan itu, karena nyatanya lokasi itu tampak kotor.

Air sungainya terlihat keruh, tapi mengalir tenang. Angin bertiup lebih kencang di daerah ini. Bila di bantaran tampak kotor, pemandangan berbeda terlihat di pinggir sungai. Sepanjang pinggiran sungai terlihat bersih, ditumbuhi rumput hijau, dan terdapat satu perahu usang terlantar. Dari lokasi ini juga bisa terlihat sekitar 15 perahu terparkir, persis di bawah jembatan.

Baca Juga :  Dubes Ceko Kagumi Keindahan Pariwisata di Sumut

Tak Dimanfaatkan Maksimal

Di lokasi river walk terdapat 10 bangunan berbentuk mirip halte bus, yang disiapkan sebagai tempat berjualan makanan. Kondisi halamannya tidak terawat. Terbukti adanya genangan air serta sampah sisa makanan yang berserakan.

Selain itu, di bangunan yang masih kosong tersebut, bagian lantai keramiknya tampak kusam, berlumur minyak serta terdapat kotoran hitam. Tempat ini agaknya tidak dirawat.

Di tempat itu ada kran air, tapi tak berfungsi. Beruntungnya fasilitas musholla yang disediakan pihak pengelola cafe bisa dimanfaatkan untuk shalat. Meski untuk mengambil wudhu, pengunjung harus masuk toilet.

Dari pengamatan Waspadaaceh.com, hanya di sekitar area kedua cafe itu yang lokasinya tampak bersih dan layak sebagai tempat wisata kuliner.

Sejak lebih setahun lalu, lokasi river walk ini digadang-gadang akan dijadikan lapak bagi pedagang untuk wisata kuliner. Recananya, pedagang makanan yang akan ditempatkan di river walk adalah pedagang yang saat ini berjualan di kawasan Jl. A Yani, Peunayong. Tapi entah mengapa, rencana ini tidak terwujud.

Di river walk sendiri dari 10 bangunan untuk kuliner, hanya dua tempat yang sudah digunakan sebagai cafe. Sisanya tampak terlantar. Fasilitas tempat yang disebut sebagai kawasan wisata kuliner river walk ini nyatanya masih “miskin” makanan. Karena hanya ada dua cafe yang sudah beroperasi, yang menawarkan kopi, jus, jenis minuman lain dan menu makanan yang terbatas beberapa jenis. Cafe di sini buka mulai pukul 16:00 WIB.

Padahal bila banyak cafe atau warung kuliner yang membuka usaha di river walk ini, maka akan lebih banyak lagi pilihan menu makanan dan minumannya. Dan river walk akan lebih “kaya” dengan beragam menu makanan dan minumannya.

Baca Juga :  Membanggakan Sumut, Film parHEREK Masuk Nominasi FFI 2021

Ketika kami melakukan perjalanan ke sisi seberang sungai, yang sudah masuk kawasan Kecamatan Kutaraja, penataan bantaran Krueng Aceh ini tampak lebih memprihatinkan. Meski tampak bersih, namun pagar stenlis sepanjang lebih kurang 10 meter itu, rubuh ke pinggir sungai. Menurut seorang warga, pagar besi stenlis itu sudah tumbang sekitar setahun lalu, dan belum pernah diperbaiki. (WaspadaAceh)

Komentar Anda

Gaya Hidup